Sungai Barito Menyusut saat Kemarau, Alur Utamanya Masih Berair

Sungai Barito Menyusut saat Kemarau, Alur Utamanya Masih Berair

BERITAKINI.CO.ID — Pemandangan tak biasa terekam di sekitar Jembatan Kalahien, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Area yang lazimnya berupa badan sungai kini tampak seperti daratan berpasir dengan warna kuning kecokelatan, tanpa genangan air.

Dalam unggahan akun Instagram @borneosocial, terlihat seorang pria berjalan santai di area yang kering tersebut. Video ini lantas memicu anggapan bahwa Sungai Barito telah mengering total.

Alur Utama Sungai Masih Tergenang

Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III, Sandi Eriyanto, menyampaikan hamparan pasir itu merupakan bagian sungai yang kehilangan genangan akibat turunnya muka air. Namun, dari hasil pemantauan langsung, alur utama Sungai Barito di lokasi tersebut masih memiliki lebar sekitar 100 meter.

"Namun, ketika dilakukan pemantauan langsung, masih terlihat alur utama sungai yang berair dan tetap berfungsi sebagai jalur transportasi sungai," kata Sandi dikutip Antara (25/8/2026).

Pemicu Penyusutan Debit Air

Fenomena ini terjadi di tengah menguatnya musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sejumlah wilayah di Barito Selatan telah mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) kategori panjang hingga sangat panjang. Periode HTH panjang berkisar 21-30 hari, sementara kategori sangat panjang mencapai 31-60 hari.

Dengan curah hujan yang minim, pasokan air ke sungai berkurang drastis. Proses penguapan yang terus berlangsung di tengah cuaca kering membuat muka air semakin turun. Bagian sungai dengan elevasi lebih tinggi atau aliran dangkal menjadi yang pertama kehilangan genangan.

BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah memasuki sifat hujan bawah normal. Curah hujan diprediksi hanya 0-20 milimeter dengan persentase 0-50 persen dari kondisi normal. Puncak kemarau di wilayah ini diperkirakan berlangsung pada Agustus-September 2026.

Dampak dan Imbauan untuk Warga

BPBD Barito Selatan membenarkan adanya penyusutan debit sungai yang cukup signifikan. Meski begitu, kondisi ini tidak berarti seluruh aliran Sungai Barito menghilang.

Penyusutan debit berpotensi mengganggu aktivitas warga yang bergantung pada sungai, seperti transportasi, kebutuhan air harian, perikanan, hingga kegiatan ekonomi di sepanjang bantaran. Periode tanpa hujan yang panjang juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) karena vegetasi dan permukaan tanah menjadi lebih kering.

Masyarakat diimbau menghemat penggunaan air dan meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan serta karhutla. Pemerintah melalui BMKG dan BWS Kalimantan III terus memantau perkembangan cuaca, muka air, dan kondisi alur Sungai Barito untuk mengantisipasi dampak kemarau yang lebih luas.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index