Pakar UGM Beberkan Risiko Konsumsi Obat Asam Lambung Sembarangan

Pakar UGM Beberkan Risiko Konsumsi Obat Asam Lambung Sembarangan
Ilustrasi Obat.(Sumber:NET)

JAKARTA - Obat penyakit asam lambung atau gastroesophageal reflux disease (GERD) berpotensi memicu berbagai dampak negatif jika dikonsumsi secara sembarangan.

Guru Besar Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Zullies Ikawati menjelaskan bahwa menentukan obat asam lambung yang tepat tidak bisa hanya berdasarkan ukuran dosis saja. Pemilihan obat tersebut harus disesuaikan dengan kondisi pasien, frekuensi kekambuhan, keberadaan luka, usia, penyakit penyerta, hingga jenis obat lain yang sedang dikonsumsi. “Karena itu, idealnya penderita memang tidak terus-menerus menebak sendiri obat yang harus diminum,” kata Zullies kepada Kompas.com, Sabtu (23/5/2026).

Ada beragam ancaman kesehatan akibat pemakaian obat asam lambung yang tidak terkontrol atau asal-asalan. Hal tersebut utamanya rentan terjadi jika obat dikonsumsi dalam jangka panjang tanpa lewat pemeriksaan medis.

Beberapa risiko bahaya tersebut meliputi: gejala penyakit berat berpotensi "tersembunyi" sehingga terlambat terdeteksi, kekurangan vitamin B12, magnesium, ataupun hambatan pada penyerapan kalsium.

Bukan itu saja, risiko infeksi pada saluran pencernaan tertentu juga dapat meningkat, memicu kontradiksi dengan obat lain, menyebabkan masalah ginjal dalam situasi tertentu, hingga memicu rebound acid hypersecretion—sebuah kondisi saat asam lambung justru melonjak tajam ketika konsumsi obat dihentikan mendadak setelah pemakaian yang lama.

Jika hanya berupa keluhan ringan yang datang sesekali, Zullies menilai penggunaan obat bebas kemungkinan masih dapat dilakukan secara bijak. Namun, apabila gangguan yang muncul sudah bersifat kronis, ia menyarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter. “Tetapi bila sering kambuh, nyeri berat, sulit menelan, berat badan turun, muntah darah, BAB hitam, atau perlu minum obat terus-menerus, maka sebaiknya diperiksa dokter karena bisa saja bukan ‘maag biasa’,” terang Zullies.

Ia juga memberi masukan agar konsumsi obat asam lambung selalu mengikuti petunjuk medis. 

Zullies menyarankan untuk memilih jenis obat yang paling ringan terlebih dahulu, selama obat tersebut masih bekerja secara efektif.

Zullies Ikawati menambahkan bahwa obat asam lambung memiliki beberapa tingkatan, tergantung pada kekuatan obat, cara kerja mekanismenya, serta tingkat keparahan penyakit yang diderita. “Jadi memang ada semacam terapi bertahap dalam penanganan sakit maag, GERD, atau gangguan asam lambung lainnya,” ungkap Zullies.

Secara umum, obat asam lambung dikelompokkan ke dalam tiga tahapan, yang salah satunya adalah kelompok antasida. Beberapa contoh obat asam lambung jenis antasida ini meliputi aluminium hidroksida, magnesium hidroksida, dan kalsium karbonat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index