BERITAKINI.CO.ID — Penutupan selat yang mengalirkan sekitar 20 persen minyak dan gas alam cair dunia itu telah memicu fluktuasi harga minyak mentah di pasar global. Trump menegaskan, setiap kapal yang mencoba memasang ranjau baru akan dihancurkan secara langsung dan sistematis.
Mengapa Selat Ini Krusial bagi Pasokan Energi Global
Sebelum perang pecah pada 28 Februari lalu, Selat Hormuz menjadi lintasan utama bagi seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Konflik diawali dengan serangan udara AS dan Israel ke wilayah Iran, yang kemudian memicu aksi balasan Teheran terhadap Israel, pangkalan militer AS di kawasan, serta sekutu Arab Washington di Teluk.
Gencatan senjata yang sempat disepakati untuk memfasilitasi perundingan telah runtuh. Kontak tembak antara AS dan Iran masih terjadi secara sporadis hingga pekan-pekan terakhir.
Jalur Diplomasi yang Gagal dan Tekanan Ekonomi Baru
Upaya penyelesaian melalui nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani kedua negara pada Juni lalu tidak membuahkan hasil. Dokumen 14 poin itu memberi tenggat 60 hari untuk mencapai kesepakatan soal pengelolaan Selat Hormuz sebelum negosiasi substantif mengenai isu nuklir dimulai. Tenggat tersebut telah lewat dan pembicaraan dinyatakan gagal.
Washington merespons dengan menjatuhkan sanksi ekonomi baru. Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperingatkan negara mana pun yang menjalin kemitraan finansial dengan Iran akan diisolasi. Trump meyakini tekanan ini akan memicu keruntuhan rezim Teheran.
Menanggapi hal itu, Menteri Ekonomi Iran Ali Madanizadeh menyatakan Teheran "sepenuhnya siap" menghadapi sanksi yang lebih luas. Ia menilai kebijakan AS tersebut akan berujung pada "kekalahan lain" bagi Washington, meski ekonomi Iran disebut tertekan akibat perang dan blokade pelabuhan yang diberlakukan AS selama berminggu-minggu.
Respons China dan Rencana Koridor Pelayaran Alternatif
China—pembeli terbesar minyak Iran—menolak keras sanksi tersebut dan menyebutnya sebagai "tindakan unilateral yang ilegal". Beijing berjanji mengambil "semua langkah yang diperlukan" untuk menjaga haknya. Pernyataan ini muncul menjelang rencana pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping bulan depan. Washington dinilai mewaspadai potensi balasan Beijing, yang menguasai mayoritas produksi rare earth dunia, bahan penting bagi industri teknologi tinggi.
Di tengah kebuntuan itu, Iran dan Oman tengah merundingkan mekanisme pengelolaan selat. Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi menyatakan harapannya agar kedua negara segera mengumumkan pembentukan koridor pelayaran sementara. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabad menjelaskan, rute masuk ke Teluk akan melalui perairan Iran dan jalur keluar melalui wilayah teritorial Oman. Ia menegaskan koridor selatan yang direkomendasikan AS kepada perusahaan pelayaran akan ditutup.
Gharibabad juga menyatakan kapal militer tidak akan diizinkan melintas dan hanya kapal komersial yang boleh lewat. Ia menyebut jalur tersebut bersifat sementara, sementara negosiasi untuk solusi permanen akan berlanjut antara Teheran dan Muskat.