BERITAKINI.CO.ID — Washington semakin mengencangkan isolasi ekonomi terhadap Teheran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent, Selasa (25/8), mengumumkan perluasan sanksi sekunder yang menyasar sektor aset digital, teknologi, emas, penerbangan, dan pelayaran Iran. Langkah ini merupakan pergeseran strategi AS dari operasi militer ke instrumen ekonomi di tengah kebuntuan perang yang telah berlangsung hampir enam bulan.
Bessent menyebut target operasi ini adalah memutus seluruh jalur kehidupan ekonomi yang menopang pemerintahan Iran. "Kami akan meminta pertanggungjawaban semua pihak, dan ini adalah langkah melumpuhkan ekonomi rezim tersebut," ujarnya kepada wartawan. Ia juga memperingatkan negara-negara yang tidak bergabung dalam kampanye sanksi akan ikut merasakan dampak isolasi.
Sanksi Baru Menyasar 60 Individu dan Perusahaan
Departemen Keuangan AS mengusulkan penjatuhan sanksi terhadap 60 individu, perusahaan, dan kapal yang diduga membantu Iran dalam menghasilkan pendapatan minyak, pengadaan senjata, dan operasi siber. Presiden Donald Trump disebut sedang menghubungi para pemimpin dunia untuk meminta mereka menghentikan interaksi dengan Teheran.
Bagi Iran, tekanan semacam ini bukan hal baru. Negara itu telah bertahan dari berbagai putaran sanksi selama bertahun-tahun dan kali ini mengklaim telah menyiapkan rencana kontingensi dua tahun untuk menghadapi gelombang tekanan terbaru.
Pezeshkian: AS Gagal di Medan Perang, Gagal Pula di Ekonomi
Menanggapi manuver Washington, Presiden Masoud Pezeshkian menegaskan ketidakberdayaan sanksi tersebut. "Amerika tidak akan mencapai apa pun melalui tekanan ekonomi pada tahap ini, sebagaimana mereka juga gagal mencapai apa pun dalam perang," katanya, Kamis (27/8).
"Kami akan berdiri teguh melawan tekanan ekonomi, sebagaimana yang telah kami lakukan selama ini dan akan terus kami lakukan," tegas Pezeshkian. Sikap ini menunjukkan bahwa Teheran menilai kampanye AS sebagai pengalihan dari kegagalan militer di lapangan, terutama dengan tetap ditutupnya Selat Hormuz dan berlanjutnya blokade laut balasan dari Washington.
Militer Klaim Pulihkan Kemampuan Tempur
Di sisi pertahanan, Iran tidak tinggal diam. Juru bicara tentara Iran, Mohammad Akraminia, menyampaikan bahwa pihak militer telah memulihkan kemampuan tempurnya yang sempat menurun selama perang. Pemulihan ini dilakukan melalui rekonstruksi seluruh sistem persenjataan yang rusak serta impor peralatan baru dari luar negeri.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa Iran tidak hanya bertahan secara ekonomi, tetapi juga memperkuat postur militernya sebagai daya tawar menghadapi tekanan asing. Dengan kombinasi ketahanan ekonomi dan pemulihan militer, Teheran tampaknya menolak untuk tunduk pada tekanan Washington.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Dewan Keamanan PBB maupun negara-negara kawasan terkait eskalasi sanksi terbaru ini. Yang jelas, kebuntuan antara kedua negara masih jauh dari kata selesai, dan rakyat Iran kembali diuji ketahanannya di tengah himpitan ekonomi internasional.