Dorong Ekonomi, Pemprov Jateng Kebut Infrastruktur di HUT ke-81

Rabu, 19 Agustus 2026 | 14:34:05 WIB
Berbagai proyek perbaikan jalan dan jembatan di Jawa Tengah targetkan rampung pada 2026.(Sumber:NET)

JAKARTA - Pembangunan fasilitas infrastruktur dalam beberapa tahun belakangan menjadi instrumen krusial bagi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) untuk memacu pertumbuhan ekonomi di daerahnya.Sebab, ketersediaan sarana seperti jalan raya sanggup menghubungkan pergerakan warga, memutar roda perekonomian, serta membuka berbagai peluang baru.

Tidak heran jika ratusan kilometer jalan terus diperbaiki, deretan embung didirikan, puluhan jaringan irigasi dibangun, hingga puluhan jembatan direhabilitasi.Langkah ini dilakukan demi memangkas biaya logistik, mendongkrak daya saing ekonomi, serta mengakselerasi pemerataan pembangunan.

Target tersebut bukan sekadar wacana semata.Menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Provinsi Jawa Tengah, beragam hasil nyata pembangunan infrastruktur telah dimanfaatkan oleh masyarakat.Beberapa di antaranya yakni tingkat kemantapan jalan, kondisi jembatan, keberadaan embung, hingga saluran irigasi.

Capaian pembenahan infrastruktur jalan dan jembatan secara konsisten menjadi perhatian bersama.Pada penghujung 2025, jalan provinsi sepanjang 2.293,96 kilometer tercatat berstatus mantap atau mencapai 94,01% dari total panjang jalan provinsi yakni 2.440,12 kilometer.Sementara itu, jembatan sepanjang 22.733,45 meter berada dalam kondisi mantap atau sebesar 85,43%.

Dua contoh paket pemeliharaan jalan pada semester II-2025 adalah ruas jalan Parakan (Temanggung)-Patean (Kendal) serta ruas jalan Wonosobo-Dieng (Banjarnegara).Kedua proyek tersebut digarap pada kurun waktu Juli-Desember 2025 dan diresmikan pada 2026.Selain itu, keduanya merupakan jalur penghubung antardaerah yang menopang kegiatan ekonomi dan sektor pariwisata.

"Terima kasih atas perbaikan jalan yang sudah dilakukan. Itu sangat bermanfaat dalam mendukung aktivitas sehari-hari masyarakat. Semoga jalan di titik lain juga dibangun agar semua ikut merasakan pembangunan yang dilakukan," ujar Kepala Desa Ngadirejo, Muhammad Abdillah Al Kafi, dalam keterangannya, Selasa (18/8/2026).

Pada tahun 2026, hingga triwulan II, tingkat kemantapan jalan provinsi berada di angka 87,79%.Salah satu pemicu penurunan kemantapan jalan tersebut adalah tingginya curah hujan selama triwulan I-2026 yang mengikis lapisan aspal.Hingga akhir tahun 2026, capaian tersebut ditargetkan kembali menyentuh angka 94 persen.

Pemprov Jawa Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi langsung merancang langkah percepatan pemulihan jalan provinsi guna mengembalikan kemantapan jalan minimal seperti tahun sebelumnya, bahkan alokasi anggaran tambahan dikucurkan untuk penanganan jalan rusak dan berlubang di berbagai wilayah.Tentu saja yang menjadi prioritas utama adalah akses jalan yang menjadi urat nadi serta penopang pertumbuhan ekonomi dan pariwisata.

Peningkatan serta pembenahan jalan di bermacam daerah yang telah berjalan pada 2026 mencakup ruas jalan Singget-Doplang-Cepu (Kabupaten Blora), Jepara-Keling (Kabupaten Jepara), Wiradesa-Kajen (Kabupaten Pekalongan), hingga jalur penyelamat Kalijambe (Magelang-Purworejo).

Di samping itu, suntikan anggaran ekstra yang dialokasikan Ahmad Luthfi turut menyasar beberapa ruas jalan lain, seperti di Brebes, Pemalang, dan Batang.Proyek ini juga menyentuh ruas jalan di kawasan perbatasan seperti Randublatung-Cepu (Blora) serta deretan ruas jalan di Wonogiri meliputi Ngadirojo-Biting dan Ngadirojo-Giriwoyo (keduanya berbatasan langsung dengan Jatim).

"Terima kasih pada Pak Gubernur mengalokasikan pembangunan jalan di Wonogiri. Setelah jadi, bisa bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan warga," kata Kepala DPUPR Kabupaten Wonogiri, Prihadi Ariyanto.

Selain jalan provinsi, penanganan jalan daerah turut dijadikan sebagai skala prioritas.Hal ini melibatkan sinergi dan kolaborasi antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota, serta pemerintah pusat.Tercatat pada tahun 2025, Inpres Jalan Daerah (IJD) telah menyelesaikan penanganan 30 paket pekerjaan jalan secara tuntas dengan total panjang 132,62 kilometer.Puluhan paket pekerjaan tersebut tersebar di 19 kabupaten/kota.

Bahkan pada tahun 2026 ini, Luthfi bersama para bupati dan wali kota telah mengajukan usulan ke pemerintah pusat untuk penanganan jalan sepanjang 36,30 kilometer serta pengerjaan jembatan sepanjang 249,70 meter.

Menurut penuturan Luthfi, pembangunan jalan merupakan salah satu strategi mendasar guna memicu pertumbuhan titik ekonomi baru serta pariwisata di Jawa Tengah.Infrastruktur yang memadai akan memperlancar mobilitas warga beserta distribusi barang dan jasa antarwilayah.Proyek pembangunan jalan ini juga ditujukan demi menjamin keselamatan masyarakat.

“Jalan ini kami banguan bukan sekadar fisiknya, tetapi agar pergerakan orang dan barang bisa berjalan dengan lancar dan aman. Kalau infrastrukturnya baik, konektivitas wilayah meningkat dan ekonomi masyarakat juga ikut bergerak,” katanya.

Urusan infrastruktur tentu tidak hanya berkutat pada jalan dan jembatan semata.Sebagai daerah penyangga lumbung pangan nasional, sarana penunjang sektor pertanian juga memegang peranan yang tak kalah penting.Contohnya yakni ketersediaan embung dan sistem jaringan irigasi lahan pertanian.

Berdasarkan data resmi, sepanjang tahun 2025 telah dibangun delapan embung baru dan dua pembenahan embung, sedangkan hingga awal tahun 2026, Gubernur Ahmad Luthfi tercatat sudah meresmikan hingga 12 embung di berbagai wilayah.

Salah satu buktinya adalah Embung Kerangjati di Blora, keberadaan embung tersebut telah dirasakan faedahnya oleh para petani untuk mengaliri lahan pertanian seluas kurang lebih 40 hektare.

Frekuensi masa tanam padi sebelum adanya embung umumnya hanya satu kali lantaran mengandalkan sistem tadah hujan.Setelah embung berdiri, masa tanam mampu ditingkatkan menjadi lebih dari dua kali dalam setahun.

"Sumber air di sini tadah hujan. Tanam padi cuma sekali, kalua coba dua kali banyak gagalnya karena kurang air. Dengan bantuan embung ini bisa menanam sampai tiga kali," kata perwakilan kelompok tani Sidodadi Kelurahan Karangjati, Karyono, saat peresmian embung pada 2 Maret 2026 lalu.

Lebih jauh, Luthfi memaparkan bahwa pendirian embung merupakan wujud komitmen pemerintah dalam menyediakan pasokan air baku sekaligus memperkuat sektor pertanian sebagai pilar ketahanan pangan.

Ia berharap, fasilitas embung yang telah dibangun dan diresmikan dapat dirawat serta dikelola bersama oleh masyarakat agar kegunaannya bertahan dalam jangka panjang.

“Dalam pertanian itu kuncinya air. Orang menanam itu kuncinya air. Oleh karena itu kami bangun embung untuk menampung air hujan supaya saat kemarau masih bisa dimanfaatkan untuk mengairi sawah,” katanya saat meresmikan Embung Plosorejo di Desa Guworejo, Kecamatan Karangmalang, Kabupaten Sragen.

Terkini