Ebola Masuk Prancis, Otoritas Kesehatan Isolasi Dokter dari Kongo

Kamis, 25 Juni 2026 | 11:06:15 WIB
Ilustrasi penanganan ebola.(FOTO:NET)

JAKARTA - Prancis telah mengonfirmasi temuan kasus virus Ebola pertama di wilayahnya.

Seorang dokter yang baru saja menyelesaikan misi kemanusiaan di Republik Demokratik Kongo (DRC) dinyatakan positif mengidap Ebola.

Temuan ini menjadi kasus infeksi Ebola pertama yang terkonfirmasi di benua Eropa sejak merebaknya wabah terbaru di Afrika Tengah.

Kementerian Kesehatan Prancis mengabarkan pada Rabu (24/6/2026) bahwa dokter yang bersangkutan segera diisolasi begitu tiba di Prancis.

Pasien tersebut dipindahkan menuju rumah sakit dengan menerapkan protokol keamanan yang sangat ketat demi meminimalkan risiko penularan.

"Seluruh langkah pencegahan, terutama mengisolasi pasien, telah dilakukan segera setelah ia tiba di Prancis. Pasien juga dipindahkan ke rumah sakit dalam kondisi yang aman untuk menghindari risiko infeksi," tulis Kementerian Kesehatan Prancis.

Dalam rangka mengantisipasi penyebaran virus di lingkungan domestik, otoritas kesehatan Prancis langsung melangsungkan investigasi epidemiologi untuk menelusuri riwayat kontak pasien.

Pihak-pihak yang dikategorikan sebagai kontak erat akan segera dihubungi oleh otoritas kesehatan regional.

Mereka diharuskan melakukan karantina mandiri di kediaman masing-masing selama 21 hari dengan pengawasan yang sangat intensif selama periode tersebut.

Walakin, Kementerian Kesehatan Prancis memastikan bahwa potensi penyebaran virus ke publik secara luas masih berada di tingkat yang sangat rendah.

Pada bulan sebelumnya, seorang dokter dari Amerika Serikat yang juga tertular Ebola di Republik Demokratik Kongo sempat mendapatkan penanganan medis di Rumah Sakit Universitas Charité, Berlin, Jerman.

Di sisi lain, European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) memandang risiko penularan Ebola bagi warga Eropa ataupun pelancong yang mendatangi wilayah terdampak masih masuk kategori rendah.

Sementara itu, ancaman bahaya bagi masyarakat Eropa secara umum dipandang berada di tingkat yang sangat rendah.

Hal tersebut disebabkan oleh karakteristik virus Ebola yang tidak menular lewat udara, melainkan melalui persentuhan langsung dengan darah atau cairan tubuh dari orang yang mengidapnya.

Kondisi Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo

Semenjak wabah ini dikonfirmasi secara resmi pada pertengahan Mei, tercatat ada lebih dari 1.000 kasus positif dan sekurang-kurangnya 260 korban jiwa yang dilaporkan.

Wabah kali ini menjadi yang paling masif yang pernah terekam dalam kurun waktu satu bulan pertama sejak awal diumumkan.

Merebaknya kasus ini dipicu oleh strain Bundibugyo, jenis virus Ebola yang termasuk jarang ditemukan.

Hingga saat ini, belum ada produk vaksin maupun metode pengobatan khusus yang disetujui secara resmi untuk mengatasi jenis strain ini.

Pihak berwenang kesehatan di sana masih terus berjuang meredam perluasan virus di Provinsi Ituri yang menjadi titik pusat wabah.

Akan tetapi, mobilisasi warga lokal yang disebabkan oleh konflik bersenjata membuat proses penanggulangan menjadi jauh lebih kompleks.

Sampai waktu ini, baru mendekati separuh dari keseluruhan daftar kontak dengan risiko tinggi yang berhasil dilacak dan diawasi.

Di samping itu, asal-muasal dari kemunculan wabah ini pun masih belum berhasil diidentifikasi.

Situasi di dalam area pengungsian turut memicu kekhawatiran besar lantaran kondisi lingkungan yang padat dapat mempercepat transmisi infeksi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merasa cemas apabila wabah ini nantinya menyebar ke wilayah negara-negara tetangga.

Kekhawatiran itu menyeruak setelah beberapa kasus infeksi Ebola juga dideteksi di negara terdekat, yakni Uganda.

Terkini