BERITAKINI.CO.ID — Riwayat industri ponsel pintar dipenuhi kisah brand besar yang kehilangan arah. OnePlus, LG, dan HTC adalah tiga nama yang pernah berada di puncak, namun kini harus menerima kenyataan pahit. Bagi konsumen, memahami pola kehancuran ini penting sebelum memutuskan membeli perangkat dari brand yang sedang naik daun.
LG: Inovasi Tanpa Daya Tarik Massal
LG menjadi contoh paling gamblang. Selama bertahun-tahun, perusahaan asal Korea ini konsisten meluncurkan ponsel dengan pendekatan unik. Sayangnya, inovasi tersebut gagal menarik minat pasar secara luas.
Divisi mobile LG akhirnya ditutup total. Keputusan ini diambil setelah divisi tersebut terus menerus mencatatkan kerugian, meski produknya secara teknis sering dipuji para reviewer.
HTC: Dari Penjualan Tertinggi Hingga Pensiun dari Pasar Ponsel
Kisah HTC bahkan lebih dramatis. Di masa jayanya, brand asal Taiwan ini berhasil mengungguli Apple dalam hal penjualan di Amerika Serikat. Pangsa pasar yang besar membuat HTC sempat dianggap sebagai pemain utama yang tak tergoyahkan.
Saat ini, HTC hanyalah bayangan dari kejayaannya dulu. Fokus utama perusahaan telah bergeser total ke bisnis Virtual Reality (VR), meninggalkan lini ponsel yang dulu menjadi tulang punggungnya.
Mengapa Brand Besar Bisa Gagal Bertahan?
Pola yang terlihat dari ketiga brand ini hampir sama: kegagalan membaca pergeseran preferensi konsumen. LG terlalu fokus pada eksperimen teknis, sementara HTC gagal membangun ekosistem yang kuat seperti kompetitornya.
Di sisi lain, OnePlus yang kini berada di posisi genting menghadapi tantangan berbeda. Persaingan harga dari brand China lain dan ekspektasi konsumen yang terus naik membuat posisinya semakin sulit.
Pelajaran untuk Konsumen Indonesia
Fenomena ini relevan bagi pembeli di pasar lokal. Membeli ponsel dari brand yang sedang berjaya bukan jaminan keberlangsungan dukungan software dan layanan purna jual di masa depan.
Konsumen perlu mempertimbangkan rekam jejak brand dalam mempertahankan komitmennya. Brand yang sudah terbukti bertahan lama biasanya memiliki basis pengguna besar dan ekosistem yang matang, bukan sekadar produk dengan spesifikasi tinggi.
Keputusan Cerdas di Tengah Ketidakpastian
Sebelum membeli ponsel baru, cek riwayat pembaruan software dan komitmen brand terhadap pasar Indonesia. Brand yang pernah menutup divisi ponselnya di negara lain bisa saja melakukan hal serupa di masa depan.
Memilih brand dengan rekam jejak panjang dan komunitas pengguna yang solid tetap menjadi pilihan paling aman. Inovasi memang menarik, tapi keberlanjutan adalah kunci utama yang sering terlupakan.