BEIJING - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan alokasi pendanaan senilai 17 miliar dolar AS dari Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) statusnya ialah pinjaman normal demi pembiayaan program pembangunan nasional sepanjang kurun waktu 2025–2029.
"Pinjaman itu adalah pinjaman normal yang biasa diberikan ke negara-negara lain dengan rate yang sama," kata Purbaya Yudhi Sadewa kepada ANTARA di Beijing, Kamis (18/6) malam.
Pernyataan tersebut dilontarkan oleh Purbaya pasca selesainya agenda pertemuan dirinya bersama Menteri Keuangan China Lan Fo'an beserta perwakilan dari bank sentral China People’s Bank of China (PBOC), Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB), hingga kalangan investor dalam rangkaian kunjungan kerja resmi ke China pada 16-19 Juni 2026.
"Kami berhasil mengamankan komitmen pinjaman sebesar 17 miliar dolar sampai 2029. Artinya AIIB sudah menyediakan uang itu, tinggal kami apakah mau memakainya untuk membiayai pembangunan infrastruktur kami," tambah Purbaya.
Alokasi dana tersebut merupakan bagian dari skema "Multi-Years Rolling Pipeline" yang sejauh ini telah dibahas secara mendalam bersama otoritas AIIB.
Kendati porsi dari program tersebut telah dirancang pada periode sebelumnya, jajaran pemerintah Indonesia sukses memastikan keberlanjutan dari komitmen pendanaan lembaga multilateral itu demi mengawal agenda pembangunan nasional untuk beberapa tahun ke depan.
"Selain itu AIIB juga mengutarakan keinginannya untuk membangun atau memiliki cabang di Jakarta, lalu kami sampaikan kami terbuka akan hal itu, mungkin lokasi kantornya di Jakarta," ungkap Purbaya.
Purbaya mengutarakan pihak pemerintah Indonesia akan berupaya memfasilitasi penyediaan kantor untuk AIIB di Jakarta dengan estimasi waktu persiapan selama satu tahun.
"Targetnya Juni tahun depan, mungkin mereka dapat pindah sebagian dan bisa mulai berkantor di sana," tambah Purbaya.
Pihak AIIB mengekspresikan ketertarikan mereka untuk membuka kantor perwakilan di Jakarta demi mengokohkan jalinan kerja sama sekaligus mendongkrak efektivitas koordinasi dalam pelaksanaan portofolio proyek yang disokong oleh AIIB.
Cetak biru rencana tersebut dinilai bakal semakin memperkuat hubungan kemitraan strategis yang terjalin antara pihak Indonesia dan AIIB.
Purbaya juga mengklaim bahwa institusi AIIB tetap menaruh tingkat kepercayaan yang sangat tinggi terhadap stabilitas kondisi fiskal di Indonesia.
Berdasarkan pandangannya, tidak dijumpai adanya rasa kekhawatiran dari manajemen AIIB terhadap tata kelola fiskal nasional ataupun proyeksi pertumbuhan roda perekonomian Indonesia di masa depan.
"Mereka yakin dengan kredibilitas dan kreativitas fiskal kami," katanya.