Terungkap! Alasan Ibu di Bantul Ikat dan Lakban Anak Balitanya

Terungkap! Alasan Ibu di Bantul Ikat dan Lakban Anak Balitanya
Warga Kedaton, Pleret, Bantul, DI Yogyakarta, digegerkan dengan penemuan seorang balita perempuan berusia tiga tahun, dalam kondisi tangan dan kaki terikat serta mulut tertutup lakban.(Sumber:NET)

BANTUL - Pihak kepolisian berhasil membongkar alasan di balik aksi TKS (25), seorang ibu di Bantul yang tega mengikat kaki dan tangan serta menutup mulut anak balitanya dengan lakban hingga ditemukan dalam kondisi lemas di rumah kontrakan. 

Kepada petugas, pelaku mengaku mengalami kelelahan hebat karena harus mengasuh anaknya seorang diri, sementara sang suami bekerja di Jakarta dan hanya bisa pulang sekali dalam sebulan.

Kasi Humas Polres Bantul, Iptu Rita Hidayanto, menjelaskan bahwa selama ini TKS membesarkan anaknya, ACB (3), tanpa bantuan siapa pun di rumah kontrakan mereka yang terletak di Padukuhan Kedaton, Kalurahan Pleret, Kapanewon Pleret, Kabupaten Bantul. 

Di sisi lain, suaminya yang bernama RF (30) harus merantau ke Jakarta demi menafkah keluarga dan hanya memiliki waktu pulang ke Yogyakarta sebulan sekali.

"Tindakan melakban tersebut tidak dipikirkan oleh pelaku risiko apa yang terjadi pada anak karena sudah terlalu capek mengurus anak sendiri. Sedangkan ayah korban/suami pelaku kerja di Jakarta pulang ke Yogyakarta setiap sebulan sekali," tutur Rita dalam keterangannya, yang dikutip dari Tribun Jogja, Kamis (4/6/2026).

Dipicu Rasa Lelah Mengasuh Sendirian

Menurut penjelasan Rita, tekanan dan rasa lelah yang dipikul TKS selama mengasuh anak tanpa didampingi suami diduga telah menumpuk. 

Dalam kondisi psikologis yang tertekan tersebut, pelaku akhirnya nekat melakukan tindakan kejam yang tidak sepantasnya dilakukan kepada anak kandungnya sendiri.

TKS mengikat pergelangan tangan dan kaki korban menggunakan selembar selendang serta lakban bening. 

Tidak hanya itu, mulut balita malang tersebut juga disumpal dan ditutup rapat dengan lakban. 

Setelah melancarkan aksinya, pelaku langsung pergi meninggalkan anaknya yang tak berdaya seorang diri di dalam kamar kontrakan. 

Rita menambahkan bahwa setelah melakban mulut anaknya, TKS berniat untuk pergi jalan-jalan demi menyegarkan pikiran dan menghilangkan penat.

Terbongkar dari Suara Tangisan

Aksi keji ini akhirnya terungkap berkat kecurigaan salah seorang tetangga kontrakan, Abdul Baqir Zein Ikhsan. 

Pada Senin (1/6/2026) malam, ia mendengar suara tangisan anak kecil yang berasal dari dalam rumah korban ketika dirinya sedang membakar sate di area depan kontrakan.

"Saksi 1 sedang bakar sate di depan kontrakan mendengar suara tangisan anak kecil dari kamar kontrakan yang ditempati oleh korban sekitar pukul 20.00 WIB," ungkap Rita.

Merasa ada yang tidak beres, saksi langsung menghubungi pemilik kontrakan untuk mengecek situasi di dalam rumah. 

Karena pintu terkunci, keduanya terpaksa menjebol akses masuk dengan cara mencongkel jendela menggunakan linggis. Saat berhasil masuk, mereka menemukan korban sudah dalam keadaan sangat lemas.

"Kedua tangan diikat menggunakan lakban bening dan kedua kaki diikat menggunakan lakban bening dan selendang warna merah maroon," jelas Rita. Selain ikatan di kaki dan tangan, bagian mulut korban juga ditemukan dalam kondisi tertutup rapat oleh lakban plastik bening.

Suami Memilih Jalan Damai

Setelah ditangkap oleh pihak berwajib, TKS langsung menjalani serangkaian pemeriksaan intensif guna mendalami kronologi serta motif utama dari perbuatannya. 

Namun, dalam perkembangan proses hukum kasus ini, suami pelaku yang juga merupakan ayah kandung korban dilaporkan memilih untuk menyelesaikan permasalahan ini lewat jalur kekeluargaan.

Rita memaparkan bahwa RF telah berlapang dada memaafkan perbuatan istrinya. Ia juga berkomitmen untuk memperbaiki komunikasi serta kondisi internal rumah tangga mereka agar peristiwa memilukan seperti ini tidak terulang kembali di masa depan.

"Suami selaku kepala rumah tangga/wali dari korban meminta agar kejadian tersebut diselesaikan secara kekeluargaan," terang Rita.

"Ayah kandung korban untuk saat ini memaafkan pelaku dan sanggup untuk memperbaiki rumah tangga sehingga kejadian tersebut tidak terulang lagi," sambungnya.

Kondisi Korban Mulai Membaik

Kondisi kesehatan ACB kini dilaporkan terus menunjukkan perkembangan yang positif setelah sebelumnya sempat terkulai lemas di dalam rumah kontrakan tersebut. 

Saat ini, balita berumur 3 tahun itu telah dievakuasi dan dirawat oleh keluarga pihak ayahnya di kawasan Patuk, Kabupaten Gunungkidul.

"Kondisinya baik, dan saat ini sedang dirawat bude-nya di Patuk, Gunungkidul," pungkas Rita, seperti dikutip dari Kompas.com, Rabu (3/6/2026).

Sebagai informasi, korban pertama kali diselamatkan oleh warga sekitar dalam keadaan yang mengenaskan dengan kedua tangan dan kaki yang terikat erat, serta mulut yang ditutup menggunakan lakban bening.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index