Polda Metro Olah TKP Kasus GRIB Jaya Vs Anak Ahmad Bahar di Depok

Polda Metro Olah TKP Kasus GRIB Jaya Vs Anak Ahmad Bahar di Depok
Anak penulis Ahmad Bahar, Ilma Sani Fitriana (33) didampingi tim kuasa hukum ditemui usai diperiksa penyidik Ditreskrimum Polda Metro Jaya.(Sumber: NET)

DEPOK - Putri dari Ahmad Bahar, Ilma (33), sampai saat ini masih mengingat dengan amat jelas memori kelam ketika sekelompok anggota Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) mendatangi rumah keluarganya di kawasan Cimanggis, Depok, Jawa Barat, pada Minggu (17/5/2026).

Kejadian yang awalnya bermula dari pencarian Ahmad Bahar tersebut berakhir pahit lantaran Ilma dibawa secara paksa ke markas besar GRIB Jaya di Jakarta Barat.

Setelah hampir tiga pekan berlalu sejak peristiwa itu, pihak kepolisian kini mulai mengusut tuntas laporan hukum tersebut dengan menggelar agenda olah tempat kejadian perkara (TKP).

Di sisi lain, Ilma dikabarkan masih harus berjuang keras memulihkan rasa trauma psikis mendalam yang dialaminya akibat rentetan peristiwa tersebut.

Tepat pada Rabu (3/6/2026), tim penyelidik dari Polda Metro Jaya mendatangi kediaman Ahmad Bahar untuk melaksanakan proses olah TKP.

Pada proses tersebut, petugas meminta Ilma menunjukkan beberapa titik lokasi krusial yang berkaitan erat dengan jalannya peristiwa kelam itu.

Titik-titik itu meliputi area teras rumah yang menjadi lokasi awal ia berhadapan langsung dengan anggota GRIB, pintu ruang tamu yang menjadi saksi perbincangan, hingga area lantai dua rumah yang sempat dimasuki secara sepihak oleh salah satu anggota GRIB untuk mencari keberadaan sang ayah.

"Saya menunjukan juga ke dalam rumah karenakan sempat ada satu orang GRIB yang masuk ke dalam rumah untuk mengecek keberadaan bapak saya," ujar Ilma.

Selama jalannya rekonstruksi lapangan itu, tim identifikasi terlihat berulang kali mengambil dokumentasi foto dan menggali penjelasan mendetail dari korban untuk menyelaraskan kronologi kejadian yang sebenarnya.

Melalui keterangannya kepada polisi, Ilma mengaku bahwa dirinya sudah berupaya sekuat tenaga menolak desakan anggota GRIB yang memaksanya ikut ke markas mereka.

Dalam situasi mendesak itu, ia sengaja mencoba mengulur waktu karena masih menunggu ibunya pulang ke rumah.

Selain karena memegang kewajiban menjaga neneknya di rumah, Ilma merasa tidak memiliki urgensi kuat untuk pergi meninggalkan rumah di tengah situasi intimidatif tersebut.

"Karena dari awal saya sudah billing saya enggak bisa pergi ke mana-mana dari rumah ini kalau ibu saya belum datang," kata Ilma.

Namun berdasarkan kesaksiannya, barisan anggota GRIB tersebut justru terus memberikan tekanan psikologis agar ia bersedia segera pergi.

Bahkan, mereka dikabarkan sempat menyodorkan selembar surat pernyataan di atas materai sebagai jaminan keamanan penuh selama ia berada di markas.

Ilma mengaku dirinya tetap teguh melayangkan penolakan.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, jumlah massa yang mendatangi rumahnya dirasa semakin bertambah masif hingga memicu ketakutan luar biasa di benaknya.

"Ada satu orang bilang ke saya, 'Mba, misalnya kalau enggak ikut sama kami, takutnya ini semakin ramai, semakin tambah banyak'," kata Ilma menirukan ucapan salah seorang anggota GRIB kepada dirinya saat itu.

Kondisi pelik tersebut akhirnya memaksa dirinya untuk menyerah setelah ketua RW setempat hadir di lokasi kejadian dan menyatakan kesediaan untuk mendampinginya ke markas GRIB.

Tidak hanya menunjukkan area bagian dalam rumah, Ilma juga mengarahkan petugas ke area parkir kendaraan yang menjadi titik awal keberangkatannya ke markas GRIB Jaya.

Ia menjelaskan bahwa kala itu ada dua unit mobil yang terparkir tidak jauh dari rumahnya.

Ilma kemudian diperintahkan masuk ke dalam kabin salah satu mobil bersama Ketua RW yang mendampinginya.

Pada momen tersebut, sebelum mobil melaju, Ilma masih berupaya memutar otak untuk mengulur waktu dengan berdalih bahwa ia kerap mengalami gejala mabuk perjalanan setiap naik mobil sehingga butuh obat Antimo terlebih dahulu.

Ia pun akhirnya diizinkan berjalan ke gerai minimarket terdekat untuk membeli obat tersebut.

Namun sayangnya, sosok yang dinanti tetap tidak kunjung datang ke lokasi.

"Sebenernya sama kaya sebelumnya, untuk mengulur waktu. Saya bilang pas sebelum pergi 'saya mabokan jadi saya mau cari Antimo dulu', itu masih mengulur waktu. Terus pas naik mobil, kami mampir dulu ke Indomaret disuruh beli Antimo," kata dia.

Setelah melewati drama mengulur waktu di minimarket tersebut, rombongan konvoi itu langsung mengarahkan kemudi menuju Markas GRIB Jaya.

Berdasarkan penuturan Ilma, sesampainya di markas GRIB Jaya, ia langsung diminta menunggu kehadiran Ketua Umum GRIB Jaya, yaitu Hercules.

"Setelah Pak Hercules datang, Pak Hercules masih tetap billing, 'kamu nih ya ngapain ancam-ancam saya dan istri saya'. Saya billing, 'maaf Pak, bukan saya'. Tapi dia tetap tidak percaya," ujar Ilma.

Ia mengaku mendapat rentetan tindakan intimidasi secara verbal selama tertahan di lokasi tersebut.

Ilma juga membeberkan bahwa ia sempat diperintahkan mencopot hijab yang dikenakannya serta menyaksikan langsung momen ketika Hercules menarik senjata api dan meletuskannya dua kali ke udara.

Sementara itu, di sela-sela jalannya olah TKP, tim penyelidik juga berusaha menggali kepastian terkait ada atau tidaknya tindakan kontak fisik yang menimpa tubuh korban selama proses evakuasi dari rumah menuju markas.

"Mba disentuh enggak atau dirangkul sama mereka?" tanya penyelidik.

"Enggak ada sih, cuma ya ikut aja karena pasrah," jawab Ilma.

Meski lembaran peristiwa kelam itu tercatat telah berlalu beberapa minggu yang lalu, Ilma mengaku efek traumatisnya masih mencengkeram kehidupannya hingga detik ini.

Ia mengutarakan bahwa dirinya belum memiliki keberanian yang cukup untuk kembali beraktivitas secara normal di luar rumah lantaran masih sering dibayangi rasa cemas akan potensi terulangnya insiden serupa.

"Saat ini juga sebenarnya saya belum bisa ke mana-mana. Jadi jujur saya trauma gitu karena jadi takut-takut ada yang ngikutin, takut-takut apa gitu lho kalau keluar," kata dia.

Kondisi trauma psikologis tersebut dirasa kian menyiksa batinnya karena ia diwajibkan memutar kembali memori dan menceritakan kronologi kejadian secara berulang kali kepada berbagai institusi berbeda, mulai dari penyidik kepolisian hingga lembaga negara urusan perlindungan saksi.

"Setiap misalnya saya cerita soal kronologis, saya harus cerita berulang kali ke LPSK, ke Komnas, ke Polda juga. Itu saya enggak kuat juga," ujarnya.

Ilma juga mengutarakan bahwa dirinya masih memendam rasa ketidakadilan yang mendalam atas perlakuan buruk yang menimpanya.

Menurut sudut pandangnya, seluruh hak asasi miliknya seakan telah didegradasi dan dirampas secara paksa saat ia diintimidasi untuk pergi dari rumah lalu digiring ke markas GRIB Jaya.

"Pada saat kejadian saya benar-benar merasa enggak adil. Hak saya tuh enggak ada, seperti dirampas mereka," kata Ilma.

Oleh karena itu, ia menaruh harapan yang sangat besar agar proses hukum yang kini tengah bergulir di kepolisian dapat segera dituntaskan secara bersih serta mampu menyajikan keadilan yang hakiki, sekaligus menjadi pelindung agar kasus serupa tidak menimpa masyarakat lain di masa depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index