MEXICO CITY - Eskalasi aksi unjuk rasa yang dimotori oleh para tenaga pendidik di Meksiko terlihat makin meruncing, padahal waktu pelaksanaan pertandingan pembuka turnamen Piala Dunia 2026 di kota itu tinggal menyisakan waktu kurang dari dua minggu lagi.
Tepat pada Selasa (2/6/2026), barisan guru yang tergabung dalam Coordinadora Nacional de Trabajadores de la Educacion (CNTE)—kubu oposisi dari serikat guru nasional—melakukan aksi merobohkan beberapa replika patung pesepak bola raksasa. Patung-patung tersebut sengaja dipajang sebagai media promosi Piala Dunia di ibu kota Meksiko.
Merujuk data yang dikumpulkan dari laporan media AFP serta The Guardian, massa merusak tiga buah patung setinggi sekitar 5 meter yang berada di sepanjang jalan Paseo de la Reforma, salah satu jalan protokol paling legendaris di kota itu.
Replika patung berbahan plastik tersebut merepresentasikan figur pesepak bola dari berbagai negara peserta Piala Dunia.
Setelah berhasil dirobohkan dengan bentangan tali, kelompok massa kemudian mencopot paksa jersei yang melekat pada patung-patung tersebut lalu langsung membakarnya di lokasi.
Mereka juga membakar objek bola sepak dan menorehkan bermacam coretan berisi kalimat protes pada bagian fisik patung yang rusak.
Di antara coretan yang ditinggalkan berbunyi, "Hidup CNTE", sedangkan di bagian lain terpampang tulisan, "Jika tidak ada solusi, bola tidak akan bergulir".
Satu hal yang cukup menarik perhatian adalah replika patung yang mengenakan atribut jersey tim nasional sepak bola Meksiko justru dibiarkan utuh dan sama sekali tidak dirusak oleh massa.
Pihak CNTE ternyata tidak cuma melancarkan aksi vandalisme terhadap media promosi ajang sepak bola empat tahunan tersebut.
Kelompok pengunjuk rasa ini juga menebar ancaman bahwa mereka siap menggelar demonstrasi dalam skala yang jauh lebih besar saat ajang sepak bola terakbar di dunia itu resmi bergulir pada 11 Juni mendatang jika pihak pemerintah setempat tidak segera merealisasikan tuntutan mereka.
Para guru tersebut menyuarakan tuntutan berupa kenaikan upah kerja hingga mencapai angka 100 persen sekaligus mendesak pembatalan kebijakan reformasi sistem dana pensiun yang saat ini sedang diterapkan.
Kelompok ini secara tegas menolak tawaran kenaikan upah sebesar 9 persen yang sebelumnya telah disepakati oleh pemerintah bersama barisan kepemimpinan resmi dari serikat guru nasional.
Dampak dari demonstrasi yang berlangsung pada hari Selasa tersebut juga berimbas pada penutupan sejumlah jalan protokol di wilayah kota dan kian memperparah kemacetan di area perkotaan yang memang sudah terkenal dengan kepadatan arus lalu lintasnya.
Kondisi eskalasi ketegangan sempat merangkak naik setelah satu hari sebelumnya polisi antihuru-hara bergerak membubarkan paksa kerumunan massa aksi guru yang tengah berjalan menuju kawasan alun-alun bersejarah Zocalo di jantung kota.
Lokasi tersebut sedianya diproyeksikan sebagai tempat pelaksanaan festival "Fan Fest" bagi para suporter Piala Dunia 2026.
Berdasarkan keterangan yang disampaikan oleh jajaran pimpinan serikat, terdapat lima orang demonstran yang mengalami luka-luka akibat insiden bentrokan fisik tersebut. Bahkan, salah seorang guru yang ikut serta dalam aksi dilaporkan harus kehilangan sebelah matanya.
Kendati demikian, pihak otoritas pemerintah kota membantah keras adanya penggunaan gas air mata ataupun peluru karet selama proses pembubaran massa unjuk rasa tersebut.
Memasuki hari Selasa, para guru kembali memilih berkumpul di depan gedung Kementerian Dalam Negeri dengan tujuan mengutuk keras tindakan represif yang dilakukan oleh aparat keamanan.
"Kami tidak akan membiarkan ruang publik diambil alih demi kepentingan perusahaan-perusahaan besar di balik Piala Dunia sambil mengabaikan perjuangan hak-hak pekerja," kata salah satu pemimpin CNTE, Filiberto Frausto, seperti dikutip The Guardian.
Gelombang aksi unjuk rasa dari para guru ini bahkan ikut memberikan pengaruh langsung terhadap jalannya agenda kegiatan milik Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum.
Mengutip laporan dari media lokal La Jornada yang dilansir oleh The Guardian, agenda pertemuan penting antara Sheinbaum dengan salah seorang pejabat tinggi dari negara Spanyol yang semula dijadwalkan secara tatap muka langsung terpaksa dialihkan melalui aplikasi Zoom akibat akses menuju Istana Nasional dan kawasan Zocalo tertutup total oleh demonstrasi.
Walaupun kondisinya demikian, Sheinbaum menilai bahwa gerakan protes yang dibawa oleh para guru tersebut sejauh ini masih berjalan secara kondusif dan menegaskan bahwa pihak pemerintah akan selalu membuka pintu komunikasi.
"Melalui dialog, kami akan berupaya menyelesaikan persoalan-persoalan yang memungkinkan untuk diselesaikan," kata Sheinbaum.
Ia secara jujur mengakui bahwa tidak seluruh poin tuntutan yang diajukan dapat dipenuhi secara instan akibat adanya faktor keterbatasan pada anggaran keuangan negara.
"Ada beberapa tuntutan yang tidak memungkinkan dipenuhi sepenuhnya oleh anggaran, tetapi ada juga yang bisa kami tangani dan sedang kami upayakan," ujarnya.
Akan tetapi, hingga detik ini para guru dirasa belum merasa puas atas respons yang diberikan oleh pihak pemerintah dan terus melayangkan ancaman untuk membawa gerakan protes mereka ke panggung megah Piala Dunia 2026 yang kali ini diselenggarakan secara kolaborasi oleh negara Meksiko, Amerika Serikat, dan Kanada.