Kasus Trade Misinvoicing Sejumlah PT Mulai Diusut Kejagung

Kasus Trade Misinvoicing Sejumlah PT Mulai Diusut Kejagung
Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Ketut Sumedana.(Sumber:NET)

JAKARTA - Korps Adhyaksa mengungkapkan bahwa pihaknya sedang berjalan melakukan penyidikan atas kasus dugaan manipulasi nilai dokumen ekspor-impor (trade misinvoicing) yang melibatkan beberapa korporasi.

Petunjuk awal terkait dugaan manipulasi dokumen dagang itu sebelumnya sudah dipaparkan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kepada Presiden Prabowo Subianto saat rapat terbatas, Kamis (21/5).

"Perkara manipulasi atau transfer pricing itu kami sekarang sedang lakukan penyidikan. Itu mungkin sekitar satu bulan yang lalu. Data dari Menkeu itu melengkapi data yang ada di kami," kata Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung Syarief Sulaeman Nahdi di Gedung Jampidsus Kejagung, Jakarta, Senin.

Syarief pun menyebutkan bahwa beberapa pihak yang berkepentingan sudah dipanggil untuk memberikan keterangan selaku saksi dalam penyidikan dugaan tindak pidana tersebut.

Meski begitu, Syarief masih enggan membeberkan informasi lebih jauh terkait detail penanganan kasus yang tengah berjalan ini.

"Nanti kami sampaikan. Sementara itu dulu," ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa kementeriannya telah memeriksa tiga kali pengapalan dari 10 korporasi yang dijaring secara acak.

Berbagai korporasi yang dimaksud teridentifikasi menjalankan bisnis di bidang industri minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO).

"Mereka kelihatan sekali melakukan manipulasi harga ekspor ke Amerika Serikat," ujar Purbaya.

Walau enggan mengurai daftar nama dari 10 korporasi tersebut, Purbaya memaparkan ilustrasi modus manipulasi faktur dagang yang diterapkan oleh salah satu perusahaan.

Contohnya, sebuah korporasi melaporkan nilai ekspor senilai 2,6 juta dolar AS, namun angka riil yang disetor oleh pihak importir di Amerika Serikat justru mencapai 4,2 juta dolar AS.

"Jadi, 57 persen lebih rendah. Ada yang lebih gila lagi, satu perusahaan lagi, di sini ekspor 1,43 juta dolar AS. Di sana (impor) 4 jutaan dolar AS. Berubah harganya 200 persen. Kami mau deteksi kapal per kapal," jelas Purbaya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index