JAKARTA – Mutiah Amini resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar UGM dengan membedah pemikiran mendalam Kartini mengenai dinamika ruang sosial dan perkotaan di Indonesia.
Panggung akademik di Universitas Gadjah Mada kembali melahirkan pemikiran segar melalui pengukuhan Profesor Mutiah Amini sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Sejarah. Dalam orasi ilmiahnya, ia menarik benang merah yang jarang diperbincangkan publik mengenai bagaimana seorang tokoh emansipasi memandang lingkungan tempatnya tinggal.
Pemikiran Kartini selama ini seringkali hanya diletakkan dalam kotak perjuangan hak perempuan dan pendidikan semata tanpa melihat sisi intelektualitasnya yang lebih luas. Mutiah melihat ada keresahan yang tertuang dalam surat-surat Kartini mengenai keterbatasan akses masyarakat terhadap ruang-ruang publik yang ada di sekitarnya saat itu.
Dinamika perkotaan pada masa kolonial ternyata memberikan dampak psikologis dan sosial yang terekam jelas dalam tulisan-tulisan sang pahlawan nasional tersebut. Ruang kota bukan sekadar deretan bangunan fisik, melainkan medan tempur simbolis bagi identitas dan strata sosial yang seringkali meminggirkan kelompok tertentu.
Analisis sejarah yang dibawakan Mutiah menunjukkan bahwa Kartini sebenarnya sedang melakukan kritik terhadap modernitas yang dibawa oleh pemerintah kolonial Belanda. Ia menyoroti bagaimana pembangunan infrastruktur seringkali melupakan aspek kemanusiaan dan hubungan antarmasyarakat yang sudah terbentuk sejak lama di nusantara.
"Kartini bukan sekadar bicara tentang pingitan, tetapi ia bicara tentang bagaimana ruang-ruang publik seharusnya terbuka bagi semua tanpa memandang status sosial atau etnis," ujar Mutiah Amini dalam momen pengukuhannya yang berlangsung khidmat pada Rabu, 22 April 2026.
Perspektif ini memberikan napas baru bagi studi sejarah sosial di Indonesia yang selama ini mungkin terlalu fokus pada peristiwa politik besar. Memahami ruang dari kacamata seorang perempuan di awal abad 20 memberikan gambaran tentang betapa visionernya pemikiran yang melampaui zamannya.
Data sejarah menunjukkan bahwa perkembangan kota-kota di Jawa pada periode tersebut memang mengalami segregasi yang sangat tajam antara permukiman Eropa dan pribumi. Kartini lewat tulisannya seolah sedang menggugat ketidakadilan tata ruang yang membatasi interaksi sosial dan mobilitas masyarakat bawah.
Penelitian Mutiah Amini ini diharapkan mampu menjadi rujukan bagi para perencana kota masa kini agar lebih memperhatikan aspek inklusivitas dalam pembangunan. Sejarah mengajarkan bahwa kota yang maju adalah kota yang mampu memberikan ruang setara bagi setiap penghuninya untuk berinteraksi tanpa rasa takut.
Keberhasilan meraih jabatan fungsional tertinggi akademik ini menjadi bukti dedikasi panjang dalam menelusuri arsip-arsip lama untuk kepentingan masa depan. UGM kini memiliki tambahan pakar yang siap memberikan kontribusi nyata dalam menjaga arah pembangunan nasional agar tetap berpijak pada nilai-nilai kesejarahan.
Capaian ini sekaligus mengingatkan kembali bahwa literasi dan keberanian berpikir kritis adalah kunci untuk membuka pintu perubahan yang lebih luas. Perjalanan akademik Mutiah Amini menjadi inspirasi bagi banyak peneliti muda untuk terus menggali kekayaan intelektual nusantara yang masih tersimpan rapat di balik lembaran sejarah.