JAKARTA - Asosiasi Tol Indonesia (ATI) mendata akumulasi realisasi modal di sektor pengusahaan jalan tol di Indonesia telah menyentuh angka Rp668 triliun.Besaran nilai tersebut mencakup total investasi dari seluruh ruas jalan tol yang kini sudah resmi beroperasi.
Ketua Umum ATI, Rivan A. Purwantono menerangkan bahwa nilai modal yang tertanam di sektor jaringan jalan bebas hambatan ini diproyeksikan akan terus melonjak hingga menembus Rp1.000 triliun seiring bergulirnya pengerjaan fisik ruas-ruas baru.
"Jaringan jalan tol yang beroperasi saat ini telah mencapai sepanjang 3.115,98 km yang dikelola oleh 59 BUJT, dengan akumulasi nilai investasi mencapai Rp668 triliun," jelasnya dalam keterangan tertulis, Senin (10/8/2026).
ATI menegaskan bahwa tingginya kebutuhan dana pembangunan infrastruktur menuntut hadirnya inovasi skema pembiayaan baru demi meningkatkan porsi partisipasi investasi dari pihak swasta.
Upaya ini dipandang krusial guna menekan ketergantungan terhadap porsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang alokasi pembiayaannya terbatas.
"Pembangunan jalan tol pada akhirnya harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Publik membutuhkan layanan jalan tol yang aman, nyaman, berkualitas, dan andal," tambah Rivan.
Selanjutnya, ATI menggarisbawahi bahwa kolaborasi antara pemerintah dengan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) menjadi faktor kunci untuk merawat keberlanjutan iklim investasi pada sektor moda transportasi darat.
Apalagi, mayoritas ruas tol yang sudah beroperasi saat ini masih berada pada rentang awal hingga pertengahan dalam siklus pengembalian investasi (return on investment).
Sisi finansial para pengelola jalan tol saat ini juga sedang menghadapi tantangan hebat akibat maraknya armada Over Dimension Over Loading (ODOL) yang mempercepat tingkat kerusakan struktur jalan.
Sejalan dengan situasi tersebut, Plt. Sekretaris Jenderal ATI Kristianto memaparkan bahwa pihaknya siap merancang diskusi mendalam yang bakal mempertemukan para pelaku usaha, pakar, hingga jajaran pemerintah demi menuntaskan masalah tersebut.
"Melalui pelaksanaan FGD ini, ATI berharap dapat menghimpun berbagai pemikiran kritis dan gagasan solutif lintas sektor yang akan kami rumuskan secara komprehensif ke dalam dokumen rekomendasi kebijakan (White Paper)," pungkas Kristianto.