JAKARTA - Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mendorong penerapan bioskop modular (micro-cinema) untuk memperluas distribusi film nasional sekaligus menciptakan ruang pertumbuhan ekonomi kreatif baru.
Riefky menyambut positif inovasi dan kolaborasi dari PT Indobox Cinematic Buana (Indobox Cinema) yang diharapkan menjadi solusi ampuh untuk memperluas akses distribusi film sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif di daerah.
“Ini menjadi satu semangat dengan Indobox Cinema yang saling menyadari bahwa lumbung-lumbung ekonomi kreatif banyak tersebar sehingga masyarakat di berbagai daerah memiliki kesempatan sama untuk menikmati karya sineas Indonesia,” kata Riefky dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu.
Menurut Riefky, kehadiran bioskop modular tidak sekadar berfungsi sebagai ruang pemutaran film, melainkan juga menjadi simpul aktivitas ekonomi kreatif yang membuka peluang kolaborasi dengan melibatkan pegiat usaha lokal, komunitas, hingga talenta kreatif di berbagai wilayah.
Solusi tersebut juga dinilai dapat menjawab persoalan 74 persen kabupaten/kota di Indonesia yang sampai saat ini belum memiliki bioskop.
Riefky menyampaikan bahwa kolaborasi dengan Indobox Cinema memiliki peluang besar guna meningkatkan nilai tambah serta hilirisasi subsektor film.
“Ketika akses terhadap film nasional semakin luas, maka peluang bagi sineas, pegiat ekraf, komunitas kreatif hingga investor bisa tumbuh lebih holistik bersama sehingga semangat Indobox Cinema semakin kuat,” kata Menteri Ekraf.
Bioskop modular (micro-cinema) dirancang menggunakan investasi yang lebih efisien, waktu pembangunan singkat, serta harga tiket yang jauh lebih terjangkau.
Model investasi ini dihadirkan untuk menjawab masalah kesenjangan akses bioskop mengingat baru 26 persen kabupaten/kota di Indonesia yang memiliki bioskop, dengan sekitar 70 persen di antaranya masih terkonsentrasi di Pulau Jawa.
Komisaris Utama PT Indobox Cinematic Buana Budi Yulianto menjelaskan bahwa konsep bioskop modular mampu menjadi solusi untuk menghadirkan hiburan berkualitas, memperluas distribusi film Indonesia, hingga menciptakan efek ganda (multiplier effect) yang menambah lapangan kerja bagi masyarakat sekitarnya.
Kementerian Ekraf menyatakan siap menjembatani komunikasi dengan Pemerintah Daerah terkait pemanfaatan aset atau lahan publik yang belum optimal sebagai lokasi penempatan unit bioskop modular.
Kolaborasi ini juga diyakini sanggup menjadi sarana distribusi resmi bagi film-film independen berbasis komunitas, film dokumenter, serta film daerah guna membangun ekosistem perfilman yang kian inklusif, inovatif, dan berdaya saing.