JAKARTA - PT Pertamina (Persero) menyiapkan infrastruktur untuk mendukung kebijakan pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mempercepat transisi energi melalui pengembangan bahan bakar nabati (BBN) jenis bioetanol, termasuk program E5 hingga E20.
VP Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan perseroan telah menyiapkan infrastruktur blending, terminal bahan bakar minyak (BBM), serta fasilitas distribusi guna mendukung implementasi kebijakan tersebut.
"Pertamina telah menyiapkan infrastruktur blending, terminal BBM, serta fasilitas distribusi," ujar Baron, Kamis (23/7/2026).
Menurut Baron, Pertamina siap mendukung kebijakan pemerintah dalam mengembangkan bioetanol.
Saat ini, PT Pertamina Patra Niaga telah memasarkan Pertamax Green 95 di 177 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang tersebar di sejumlah wilayah di Pulau Jawa sebagai bagian dari implementasi bertahap pemanfaatan bioetanol.
Pertamax Green 95 merupakan campuran Pertamax dengan 5% bioetanol berbahan baku tebu atau E5.
"Pertamina juga memastikan setiap produk yang dipasarkan memenuhi standar kualitas dan spesifikasi yang telah ditetapkan pemerintah, sehingga dapat disalurkan kepada masyarakat secara aman dan andal," kata Baron.
Secara terpisah, Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza mengungkapkan Pertamina tengah membangun fasilitas pengembangan bioetanol di Glenmore, Banyuwangi, Jawa Timur, dengan kapasitas produksi 30.000 kiloliter (kl) per tahun.
Pengembangan program E10 menjadi salah satu strategi pemerintah untuk menekan impor bensin sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Presiden Prabowo Subianto juga berencana menambah jumlah pabrik etanol di Indonesia dengan membangun sekitar 30 hingga 50 pabrik guna mendukung pengembangan BBM berbasis campuran etanol.
Presiden mencontohkan India telah menerapkan E20, sedangkan Brasil telah mencapai E100.Berdasarkan pengalaman kedua negara tersebut, pemerintah optimistis Indonesia dapat mencapai target penerapan E20.