JAKARTA - Usulan melibatkan kantin sekolah dalam penyaluran Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menguat setelah evaluasi Badan Gizi Nasional (BGN). Presiden Prabowo Subianto disebut menyetujui dilakukannya kajian terhadap usulan tersebut.
Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari menyatakan pemerintah membuka peluang untuk mengkaji skema lain dalam pelaksanaan MBG.
“Kan kalau menurut Perpres 115 skema pelaksanaannya hanya melalui SPPG. Pilihannya hanya itu. Pak Presiden pun tadi mengatakan silakan dikaji kalau ada alternatif yang lain, boleh. Jadi jangan hanya itu satu-satunya pilihan untuk memberikan skema pelaksanaannya,” kata Arumsari, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Ia menjelaskan, Presiden Prabowo mengarahkan agar setiap opsi maupun kebijakan terkait MBG didasarkan pada kajian komprehensif sebelum diputuskan. Setelah kajian rampung, BGN akan menyusun laporan perkembangan untuk disampaikan kepada Presiden.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris menegaskan pihaknya sejak awal mengusulkan agar MBG dilaksanakan melalui dapur kantin sekolah atau school-based kitchen.
“Sebetulnya ini sesuatu yang sudah kita sampaikan sejak awal ya, bahwa kalau mau menjalankan program ini dan kita benchmarking dari negara-negara yang berhasil menjalankan program makan bergizi, maka yang terbaik adalah menggunakan model school-based kitchen,” ujar Charles, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Menurut Charles, pelibatan kantin sekolah dapat menekan risiko keracunan makanan karena distribusi lebih singkat. Selain itu, kualitas makanan lebih terjaga karena disajikan hangat.
“Orangtua murid akan terlibat. Belum lagi dampak terhadap ekonomi lokal juga pasti akan terasa karena sekolah tersebut pasti belanja di pasar sekitar, dari peternak dekat sekolah dan lain sebagainya,” katanya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Wacana pelibatan kantin sekolah sebenarnya sudah pernah dipertimbangkan BGN untuk daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Kepala BGN Nanik S Deyang menyebut skema ini bisa dilakukan di daerah terpencil dengan jumlah murid sedikit.
“Di situ ada kantin, jadi bisa dong kantin itu digunakan, jadi kantin ini salah satu alternatif,” ucap Nanik, sebagaimana dilansir dari berita sumber.