JAKARTA - Pembahasan utang pemerintah sering berhenti pada besarnya nilai yang harus dibayar negara. Padahal, di balik angka tersebut terdapat informasi mengenai arah pembiayaan.
Bank Indonesia mencatat posisi utang luar negeri Indonesia pada Mei 2026 mencapai 444,4 miliar US dolar, tumbuh 2,1 persen secara tahunan. Dari jumlah itu, utang pemerintah mencapai 217,3 miliar dolar AS, naik 3,7 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya. Perkembangan utang pemerintah dipengaruhi aliran masuk Surat Berharga Negara internasional yang mencerminkan kepercayaan investor.
“Pemerintah tetap berkomitmen untuk menjaga kredibilitas dengan memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga utang secara tepat waktu, serta mengelola ULN secara pruden, terukur, dan fleksibel,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso, Rabu (15/7/2026).
Kesehatan jadi penerima terbesar
Data BI menunjukkan sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial menyerap 22 persen dari total utang luar negeri pemerintah, menjadi porsi terbesar dibanding sektor lain.
Administrasi pemerintahan di posisi kedua
Setelah kesehatan, sektor administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib memperoleh porsi 20,6 persen. Artinya, lebih dari seperlima pembiayaan luar negeri digunakan untuk mendukung penyelenggaraan pemerintahan, pertahanan, serta program jaminan sosial.
Pendidikan jadi prioritas ketiga
Sektor jasa pendidikan mendapat porsi 16,2 persen dari total ULN pemerintah, menjadikannya sektor terbesar ketiga penerima pembiayaan.
Infrastruktur tetap menyerap utang
Sektor konstruksi memperoleh porsi 11,5 persen, sementara transportasi dan pergudangan memperoleh 8,5 persen. Lima sektor tersebut menjadi kelompok utama penerima pembiayaan utang luar negeri pemerintah.
Struktur utang jangka panjang
BI menegaskan hampir seluruh utang luar negeri pemerintah berjangka panjang, dengan pangsa 83,9 persen dari total ULN Indonesia. Rasio ULN terhadap PDB tercatat 29,9 persen. Struktur ini mencerminkan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan utang.
Pertumbuhan utang luar negeri Indonesia pada Mei 2026 terutama berasal dari kelompok publik, sementara utang swasta masih kontraksi 0,1 persen. Peningkatan juga dipengaruhi posisi utang Bank Indonesia melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia.
“Indonesia akan terus mengoptimalkan peran ULN untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan,” imbuh Ramdan.