Riset UGM: Program ACP Bantu Keluarga Rawat Pasien Stroke

Jumat, 12 Juni 2026 | 16:03:15 WIB
Ilustrasi keluarga mendampingi penyintas stroke menjalani proses rehabilitasi dan perawatan lanjutan di rumah (FOTO: NET)

YOGYAKARTA - Dewasa ini, stroke tetap menjadi salah satu penyakit dengan beban kesehatan yang masif lantaran berisiko memicu kecacatan jangka panjang sampai kematian.

Penyakit ini dilaporkan menjadi pemicu kecacatan kedua terbesar di dunia sekaligus menyumbang angka kematian mencapai 6,5 juta jiwa.

Bagi penderita maupun pihak kerabat, rintangan pasca terjadinya serangan stroke bukan cuma bersinggungan dengan persoalan medis, melainkan juga keraguan dalam menata proses pemulihan.

Rasa gamang tersebut dapat kian meningkat apabila penderita atau pihak kerabat mempunyai wawasan yang minim seputar stroke, kurang memperoleh sokongan perawatan, menghadapi kendala komunikasi dengan petugas medis, serta belum siap memelihara penderita saat kembali ke rumah.

Dosen sekaligus mahasiswa program doktor Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), Margareta Hesti Rahayu, Ns., M.Kep., mengkaji intervensi Advance Care Planning (ACP) atau perencanaan perawatan lanjutan untuk penderita stroke.

Lewat kajian ilmiahnya, Margareta mengonsep intervensi ACP sebagai langkah nyata untuk memfasilitasi penderita mendapatkan penanganan yang selaras dengan keperluan dan harapannya.

Margareta memaparkan bahwa ACP tidak sekadar mendatangkan faedah bagi penderita, namun juga bagi pihak kerabat yang mendampingi dalam siklus pemulihan.

“ACP mampu berkontribusi dalam menurunkan ketidakpastian, stres, kecemasan, dan depresi pada pasien; memperkuat keterlibatan pasien dalam pengambilan keputusan; menurunkan konflik keluarga; serta memperbaiki kualitas perawatan akhir kehidupan pasien,” ujar Margareta dalam ujian terbuka promosi doktor di kampus FK-KMK UGM, Selasa (9/6/2026), sebagaimana diberitakan laman UGM.

Dalam dokumen disertasinya, Margareta menerapkan metode gabungan kualitatif dan kuantitatif atau mixed methods research lewat model exploratory sequential mixed method.

Kajian tersebut dilangsungkan dalam dua fase guna membedah keperluan perawatan lanjutan sekaligus menguji penerapan program ACP stroke.

Fase pertama berwujud studi kualitatif lewat model deskriptif kualitatif guna memetakan keperluan perencanaan perawatan lanjutan pada penderita, pihak kerabat, serta petugas medis.

Fase kedua diwujudkan lewat penerapan program ACP stroke dengan menyalurkan intervensi ACP kepada penderita stroke serta mengikutsertakan pihak kerabat dalam prosesnya.

Aktivitas riset ini bertempat di RSUP dr. Sardjito, RS PON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono, dan Rumah Sakit Panti Rapih sepanjang periode 2024-2025.

Kurang lebih 33 narasumber berpartisipasi dalam riset ini, yang meliputi penderita stroke, pihak kerabat, serta petugas medis.

Margareta menerangkan bahwa data riset yang dihimpun lewat wawancara mendalam dan focus group discussion (FGD) menelurkan empat pokok bahasan utama.

Tiga bahasan awal menggambarkan dinamika yang dirasakan penderita stroke dan pihak kerabat, yaitu problematika penderita stroke, keperluan edukasi serta informasi penderita dan pihak kerabat, hingga krusialnya sokongan moril.

Bahasan keempat berkaitan dengan keperluan agenda perencanaan perawatan lanjutan pada penderita, pihak kerabat, serta petugas medis.

Berlandaskan mufakat para pakar lewat model Delphi, riset tersebut melahirkan 48 poin pernyataan valid yang terkelompok dalam 19 ranah dan tiga klasifikasi.

Temuan data itu berikutnya dijadikan sebagai fondasi pembuatan buku panduan ACP stroke bagi petugas medis, penderita, serta pihak kerabat.

Buku panduan ACP stroke untuk petugas medis mencakup teori ACP, pola komunikasi dalam ACP, hingga petunjuk pengerjaan ACP pada penderita stroke.

Sementara itu, buku panduan ACP stroke untuk penderita dan pihak kerabat berisi teori ACP, edukasi seputar penyakit stroke, pola perawatan stroke di rumah, manajemen diet penderita stroke, pemulihan fisik untuk penderita stroke, hingga petunjuk konsumsi obat-obatan.

“Keseluruhan topik di atas merupakan rangkuman dari masukan dan saran dari pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan,” kata Margareta.

Temuan riset fase kedua memperlihatkan bahwa intervensi ACP sanggup menekan rasa gamang penderita atas gangguan kesehatan yang diidapnya.

Metode intervensi ini juga mendongkrak wawasan pihak kerabat dalam pemeliharaan stroke, keyakinan mandiri pihak kerabat dalam menetapkan keputusan, hingga kesiapan pihak kerabat untuk mengasuh di rumah.

Berdasarkan penjelasan Margareta, ACP dapat menolong tiap orang mempertegas harapan dan prioritas penanganan kala menjumpai situasi gamang di masa mendatang.

Andil petugas medis dari pelbagai cabang keilmuan juga membuka ruang bagi penderita dan pihak kerabat untuk berdialog secara lebih interaktif serta menyeluruh.

“Intervensi ini juga menjadi strategi dalam menurunkan ketidakpastian,” ujar Margareta.

Sidang terbuka doktoral ini menjadi bagian dari jalan panjang Margareta dalam merengkuh gelar tertinggi akademik.

Margareta sukses menuntaskan pendidikan doktoralnya dengan raihan predikat cumlaude.

Terkini