MAMUJU - Seorang pria dengan inisial AR (37) terpaksa diamankan oleh aparat kepolisian setelah kedapatan memukul bagian wajah seorang anggota polisi.
Insiden tersebut terjadi saat unjuk rasa berlangsung ricuh di area kantor Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi V, Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, pada Selasa (2/6/2026).
Selain menangkap AR, pihak kepolisian kini tengah menyelidiki indikasi kuat bahwa demonstrasi tersebut merupakan aksi bayaran yang didanai oleh oknum kontraktor. Setiap peserta aksi diduga menerima imbalan sebesar Rp 100.000.
Aksi pemukulan yang dilakukan AR sempat menjadi sorotan publik setelah rekaman video berdurasi sekitar 15 detik viral di media sosial.
Dalam video itu, AR terlihat jelas memukul wajah anggota Polresta Mamuju yang sedang mengamankan situasi demonstrasi yang tengah memanas.
Kapolresta Mamuju, Kombes Ferdyan Indra Fahmi menjelaskan bahwa AR sempat melarikan diri ke dalam hutan setelah melakukan pemukulan.
Polisi bahkan harus mengerahkan dua ekor anjing pelacak untuk melacak persembunyian AR. Pelaku akhirnya berhasil ditangkap pada Rabu (3/6/2026).
"AR berhasil diamankan tanpa perlawanan setelah tim gabungan mendeteksi lokasi persembunyiannya," kata Ferdyan kepada wartawan dalam konferensi pers di Polresta Mamuju, Rabu (3/6/2026) malam.
Ferdyan mengungkapkan bahwa berdasarkan pemeriksaan sementara, aksi unjuk rasa AR dan kelompoknya diduga tidak murni untuk menyampaikan aspirasi.
Aksi tersebut disinyalir ditunggangi oleh aktor intelektual dan penyandang dana. Hal ini terungkap setelah polisi mengendus keterlibatan pengusaha konstruksi yang kecewa dan memanfaatkan mahasiswa serta warga untuk menekan pihak BWS.
"Berdasarkan hasil pemeriksaan awal terhadap tersangka, aksi ini digerakkan oleh salah satu pengusaha atau kontraktor yang merasa kecewa karena tidak mendapatkan paket pekerjaan atau proyek di Kantor BWS tahun ini," ujar Ferdyan.
Menurut Ferdyan, AR ikut dalam demonstrasi karena diajak oleh kerabatnya yang terhubung dengan kelompok pengunjuk rasa.
Massa diduga sengaja diberi uang agar mau ikut berdemo dan memberikan tekanan psikologis kepada pimpinan BWS, dengan bayaran sekitar Rp 100.000 per orang.
"Ada indikasi kuat pemberian kompensasi atau pembayaran sejumlah uang dengan nilai tertentu, sekitar Rp 100.000 per orang, agar mereka mau turun ke jalan melakukan aksi unjuk rasa," ungkap Ferdyan.
Melihat fakta tersebut, kepolisian terus melakukan penyelidikan mendalam untuk mengungkap dalang utama, penyandang dana, hingga koordinator lapangan.
Ferdyan menegaskan bahwa pengusutan tidak akan berhenti pada kasus penganiayaan fisik anggotanya saja.
"Gelar perkara terus kami kembangkan ke arah aktor intelektual, penyandang dana, serta koordinator lapangan yang memobilisasi massa hingga berujung anarkis. Kami akan menetapkan tersangka lain yang bertanggung jawab atas aksi ini," tegasnya.