Disdikbud Lampung Ungkap Penyebab 20.534 Anak Putus Sekolah

Rabu, 03 Juni 2026 | 13:50:08 WIB
Kepala Disdikbud Kabupaten Lampung Timur Marsan (Sumber: NET)

BANDAR LAMPUNG - Sebanyak 20.534 anak di Provinsi Lampung terdata mengalami putus sekolah dan berhenti melanjutkan pendidikan mereka.

Persoalan ini menjadi atensi yang sangat serius bagi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Lampung lantaran berkaitan erat dengan masa depan puluhan ribu generasi muda.

Kepala Disdikbud Lampung Thomas Amirico memaparkan, statistik tersebut didapatkan melalui proses verifikasi resmi dari data Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin).

Thomas menguraikan, persebaran jumlah anak yang putus sekolah di wilayah Lampung mencakup tingkat SD, SMP, hingga SMA.

Merujuk pada data yang dihimpun Disdikbud Lampung, terdapat 5.081 murid yang putus sekolah pada jenjang SD.

Angka tertinggi ditemukan pada jenjang SMP, dengan jumlah mencapai 10.531 murid.

Sedangkan untuk jenjang SMA, tercatat ada 4.742 murid yang tidak menyelesaikan sekolahnya.

Statistik ini memperlihatkan bahwa kelompok usia remaja menjadi pihak yang paling dominan terdampak oleh masalah putus sekolah di Provinsi Lampung.

Thomas menggarisbawahi bahwa melonjaknya angka putus sekolah di wilayahnya bukan dikarenakan oleh terbatasnya fasilitas sarana pendidikan ataupun minimnya daya tampung yang tersedia di sekolah.

Ia menilai, kuota tampung dari akumulasi sekolah negeri maupun swasta di Lampung pada dasarnya masih sangat memadai untuk mengakomodasi anak-anak usia sekolah. "Daya tampung gabungan antara sekolah negeri dan swasta di Lampung sebenarnya sudah sangat mencukupi, bahkan banyak sekolah swasta yang kekurangan murid," jelas Thomas Amirico, Selasa (2/6/2026).

Thomas mengutarakan, berdasarkan hasil peninjauan di lapangan, kendala utama yang menyebabkan anak-anak berhenti sekolah mayoritas bersumber dari aspek nonteknis.

Thomas menambahkan, terdapat beragam aspek yang melatarbelakangi anak-anak di Lampung menyudahi pendidikan mereka.

Berbagai aspek itu meliputi keadaan finansial orang tua, permasalahan adat/budaya, kenakalan di usia remaja, hingga dampak negatif dari lingkaran pergaulan sekitar.

Situasi-situasi tersebut mengakibatkan sebagian anak terpaksa kehilangan akses pendidikan, walau sarana sekolah sebenarnya masih terbuka lebar untuk mereka.

Terkini