Inspirasi Rozi, Lulus S3 Unair dengan IPK 4.00 di Tengah Keterbatasan

Jumat, 29 Mei 2026 | 09:47:40 WIB
Dr.Rozi.(Sumber:NET)

JAKARTA - Kekurangan secara fisik bukanlah sebuah pembatas bagi seseorang untuk berkembang dan mengejar cita-citanya. Hal ini telah dibuktikan secara nyata oleh Rozi.

Rozi merupakan seorang dengan disabilitas daksa yang baru saja merengkuh gelar doktor dari Universitas Airlangga (Unair). 

Dirinya sukses menyelesaikan studi S3 dalam periode 3 tahun 11 bulan dan mengantongi IPK sempurna 4.00.

Perjalanan hidup Rozi menjadi pemantik semangat bagi para wisudawan lainnya. Lantas, seperti apa perjuangan Rozi hingga mampu menggapai tingkat pendidikan setinggi ini?

Pemuda Asal Jambi dengan Mimpi Tinggi 

Rozi merupakan lelaki yang berasal dari daerah pedalaman Jambi, tepatnya di Desa Markanding, Sungai Bahar, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Dirinya merupakan anak keempat dari total tujuh bersaudara.

Ia membeberkan bahwa keluarganya hidup dalam kesederhanaan dan mengandalkan pendapatan dari hasil berjualan ikan secara eceran. Kendati demikian, kondisi ekonomi tersebut yang malah memicu ambisi Rozi untuk mengejar pendidikan di bangku kuliah.

"Ayah saya mungkin tidak memahami apa itu jurnal internasional atau disertasi doktoral, tetapi beliau mengajarkan kerja keras, ketulusan, dan semangat untuk tidak menyerah," tuturnya dikutip dari situs resmi Unair, Kamis (28/5/2026).

Keterbatasan Fisik Bukan Halangan 

Di dalam roda kehidupannya, Rozi mesti melewati ujian yang cukup berat. Kedua belah kakinya terpaksa diamputasi, yang membuatnya kini berstatus sebagai seorang penyandang disabilitas daksa.

Pada masa awal, dirinya sempat merasa terpukul dengan kondisi tersebut. Namun, ia enggan membuang-buang waktu dalam kesedihan hingga akhirnya perlahan bangkit untuk meneruskan hidup.

"Saya belajar bahwa manusia tidak selalu diuji untuk dijatuhkan, tetapi kadang diuji untuk menemukan versi terkuat dari dirinya," ucapnya.

Beruntung, Rozi dikelilingi oleh keluarga yang senantiasa memberi sokongan penuh, termasuk sepanjang dirinya menempuh program doktor seperti saat ini.

"Kadang ketika saya merasa lelah, saya ingat bahwa mungkin ada doa ibu yang tidak pernah putus menyebut nama saya," sebut Rozi.

Tempuh Kuliah Sembari Mengajar 

Rozi sendiri statusnya adalah dosen aktif di salah satu kampus. Padatnya jadwal sebagai seorang pendidik sekaligus peneliti tidak menghalangi langkahnya untuk terus merampungkan kuliah S3.

Buah dari kegigihannya tersebut sukses melahirkan dua artikel ilmiah internasional bereputasi Scopus Q1 serta tiga artikel Scopus lainnya. 

Bukan cuma itu, Rozi bahkan dipercaya menjadi editor di jurnal internasional bereputasi Scopus.

Dirinya merasa sangat bersyukur lantaran pencapaian besarnya saat ini bisa digapai lewat jalur pendidikan. 

Ia meyakini bahwa setiap individu, termasuk kaum disabilitas, memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan.

"Pendidikan adalah hak semua orang. Keterbatasan tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti belajar dan bertumbuh," papar Rozi.

Bagi dirinya, hambatan belajar untuk seorang dengan disabilitas bukan sekadar perkara sarana fisik, melainkan juga kenyamanan untuk dihargai dan disejajarkan.

"Kadang akses paling mahal bagi penyandang disabilitas bukan lift atau ramp, tetapi rasa diterima sebagai manusia yang setara," jelasnya.

Ia menitipkan pesan kepada rekan-rekan sesama disabilitas agar tidak lekas patah arang dalam mengejar cita-cita meraih pendidikan tinggi. 

Dirinya memotivasi mereka untuk senantiasa memelihara semangat dan pantang menyerah.

"Saya percaya setiap orang punya kesempatan untuk tumbuh dan berprestasi. Kadang yang dibutuhkan hanya ruang yang menerima mereka untuk berkembang," tutupnya.

Terkini