Pesulap Merah Hebohkan Gunung Kawi, Soroti Ritual Pesugihan

Kamis, 21 Mei 2026 | 09:58:32 WIB
Marcel Radhival, si Pesulap Merah.(Sumber:NET)

MALANG - Wilayah wisata ritual Keraton Gunung Kawi yang terletak di Kabupaten Malang mendadak gempar. 

Hal ini dipicu oleh kedatangan Marcel Radhival, yang dikenal sebagai Pesulap Merah, ke lokasi yang sering diidentikkan dengan tempat pesugihan tersebut.

Bukan untuk membongkar rahasia trik secara radikal, pria dengan rambut merah terang ini datang justru demi meluruskan pandangan miring yang beredar. Dia memberikan edukasi kepada warga supaya dapat memilah antara upaya menjaga kebudayaan sejarah dengan aksi penipuan yang berkedok hal gaib.

Kehadiran Marcel di area sakral tersebut seketika menarik atensi yang masif dari warga maupun warganet. 

Melalui tayangan video yang diunggah di akun media sosial pribadinya, Marcel menyatakan bahwa tujuannya menyambangi Keraton Gunung Kawi adalah untuk menyaksikan secara langsung perpaduan antara mitos dan kenyataan di masyarakat.

"Saya datang ke sini bukan untuk merusak adat, melainkan untuk mengedukasi masyarakat agar bisa membedakan mana tempat bersejarah yang harus dihormati dan mana oknum yang memanfaatkan tempat ini untuk penipuan mistis atau pesugihan abal-abal. Berpikir logis itu perlu agar kami tidak mudah tertipu," kata Pesulap Merah, Kamis (21/5/2026).

Kunjungan Marcel ini pun memperoleh tanggapan yang baik dari pihak pengelola serta tokoh masyarakat di kawasan Keraton Gunung Kawi. 

Mereka menyambut positif edukasi itu dengan harapan mampu mengubah perspektif para pelancong yang berkunjung.

Saat menelusuri sebuah area bersama sang juru kunci, Marcel mendapati beberapa hal yang mencengangkan. 

Mulai dari area peletakan sesajen, dupa, foto, arca, tumpukan batu, hingga keberadaan gua yang dipenuhi sesaji di dekat prasasti pendirian keraton.

Hal yang menarik, Marcel pun menemukan sebuah buku tamu yang berisi deretan nama pengunjung yang pernah datang ke lokasi itu guna mengadu nasib. "Ada daftar buku tamu, ada usaha rental mobil dan MBG. Ada di sini," ucap Marcel sambil menunjuk daftar buku tamu tersebut.

Bukan cuma menjelajahi gua dan patung Hanoman, Marcel juga mendatangi sejumlah petilasan makam yang berhubungan dengan tradisi kejawen. 

Lewat penelusurannya tersebut, Marcel menarik kesimpulan bahwa banyak praktik ritual di tempat itu yang telah menyimpang dari kaidah agama, khususnya Islam.

"Ini ada makam kejawen, yang sebenarnya dalam Islam tidak boleh. Apalagi meminta-minta atau ngalap berkah. Dari hasil eksplore, bisa dilihat ada kepercayaan-kepercayaan di luar Islam itu sendiri. Dan bahkan dari keterangan orang-orang yang menjalankan ritual, itu memang mereka memintanya ke kuburan. Dan bagi umat muslim, minta ke kuburan itu memang tidak diperbolehkan, karena itu bagian dari musyrik," tegasnya.

Mengacu pada hasil bincang-bincangnya dengan juru kunci, Marcel membeberkan bahwa lokasi wisata tersebut memang kerap didatangi orang untuk tujuan mencari berkah.

Kendati demikian, urusan menjadi kaya atau sukses sejatinya tetap kembali pada gari tangan masing-masing individu.

"Kalau kami dengarkan dari juru kuncinya, pesugihan di sana atau ngalap berkah bahasanya itu pasti kaya raya tetapi tergantung nasib. Kalau tergantung nasib, apa bedanya dengan kami berdoa?" cetus Marcel.

Dia mengimbuhkan, warga lokal Malang sendiri sebetulnya banyak yang tidak memercayai keberadaan pesugihan di Keraton Gunung Kawi. "Orang Malang sendiri tidak percaya ada pesugihan. Yang katanya berhasil, karena nasib mereka. Bukan karena faktor dari Gunung Kawi," tandasnya.

Usai merampungkan penelusuran panjang di Keraton Gunung Kawi, Marcel memberikan saran kepada publik agar tidak usah membuang tenaga, waktu, dan dana untuk melakoni ritual yang bertentangan dengan agama. 

Dia mengimbau masyarakat untuk tetap berdoa berlandaskan ajaran agama masing-masing.

Meski begitu, Marcel tetap memberikan rekomendasi agar Keraton Gunung Kawi dikunjungi. Bukan sebagai wadah ritual pesugihan, melainkan sebagai tempat wisata edukasi budaya.

Tags

Terkini