Sambut 2 Tol Baru, Kota Baru Parahyangan Susun Masterplan Tahap II

Sambut 2 Tol Baru, Kota Baru Parahyangan Susun Masterplan Tahap II
Ilustrasi Jalan Tol.(Sumber:NET)

BANDUNG - Menjelang rampungnya Tol Japek II Selatan dan rencana hadirnya Tol Bocimi–Padalarang, pengembang Kota Baru Parahyangan (KBP) tengah menyusun Masterplan Tahap II.

Langkah antisipatif ini disiapkan untuk menyelaraskan kawasan dalam menyambut lonjakan arus kendaraan sekaligus menangkap potensi pertumbuhan ekonomi baru di wilayah barat Bandung Raya.

Direktur KBP, Ryan Brasali, menjelaskan bahwa Masterplan KBP Tahap II dihadirkan guna memastikan potensi peningkatan volume lalu lintas yang besar dari kedua koridor tol tersebut dapat dimaksimalkan nilainya secara bisnis dan ekonomi, tanpa mengorbankan kenyamanan para penghuni maupun pemangku kepentingan di KBP.

Selama bertahun-tahun, koridor utama Tol Cipularang menanggung beban kemacetan kronis akibat tingginya volume lalu lintas harian rata-rata (LHR).

Hadirnya Tol Japek II Selatan dan Tol Bocimi–Padalarang diharapkan mampu mengurai kejenuhan di ruas tol lama sekaligus meratakan pergerakan barang, jasa, serta manusia dari Jabodetabek dan Jawa Barat Selatan menuju Bandung Raya.

Kedua jalan tol tersebut akan bertemu di simpul utama berupa Simpang Susun dan Exit Tol Padalarang/Kota Baru Parahyangan, yang menempatkan kawasan KBP tepat berada di pusat perlintasan pergerakan nasional.

Tol Japek II Selatan menghubungkan Jatiasih hingga Sadang dan terhubung langsung dengan Tol Cipularang, membentang sepanjang 62 kilometer dengan perkiraan nilai investasi sebesar Rp 14,69 Triliun.

Sementara Tol Bocimi–Padalarang menghubungkan Ciawi, Sukabumi, Cianjur, sampai Padalarang sepanjang 115 kilometer (Seksi Bocimi 54 kilometer dan Seksi Sukabumi-Ciranjang-Padalarang 61 kilometer).

Simpul perjumpaan kedua ruas tol tersebut terletak di Simpang Susun dan Exit Tol Padalarang/Kota Baru Parahyangan.

Derasnya arus kendaraan menuntut tata ruang jalan yang efisien agar kemacetan lokal tidak terjadi.

KBP merancang berbagai rekayasa infrastruktur yang terukur, mulai dari perlintasan tidak sebidang hingga penataan geometri rute.

"Peningkatan traffic diantisipasi dengan rekayasa infrastruktur dengan perlintasan tidak sebidang, penempatan exit tol yang mempertimbangkan jarak dengan entrance, panjang jalan, pengaturan jenis kendaraan yang masuk ke area KBP, dan juga bilamana diperlukan pengaturan waktu," papar Ryan Brasali, Kamis (13/8/2026).

Hasil studi lalu lintas komprehensif menunjukkan bahwa penyediaan loop jalan lingkar Padalarang-KBP berdampak signifikan dalam menurunkan kepadatan lalu lintas di area pintu masuk utama KBP.

"Distribusi arus kendaraan menjadi jauh lebih lancar karena beban tidak terkonsentrasi di satu titik simpang tunggal," sambung Ryan.

Struktur Masterplan Tahap II memperhitungkan peningkatan nilai komersial lahan di sekitar simpul akhir tol secara terarah.

KBP menyelaraskan aktivitas ekonomi dengan rekayasa lalu lintas komersial guna mencegah terciptanya kemacetan baru, di antaranya melalui pengaturan gerbang masuk dan keluar, penyediaan jalur lambat, serta pengelolaan fasilitas parkir terpadu.

Hadirnya Tol Bocimi–Padalarang secara eksplisit memperluas jangkauan pasar KBP hingga ke kawasan barat, seperti Cianjur, Sukabumi, dan Bogor.

KBP sendiri dirancang sebagai properti pariwisata unggulan berbasis lingkungan alami yang menampung portofolio rekreasi dan komersial seperti Parahyangan Golf, Wahoo Waterworld, Mason Pine Hotel, Bumi Hejo Lifestyle Center, Bale Pare, serta pengembangan kawasan kebudayaan Lembur Udjo Parahyangan.

Fasilitas terpadu ini memperkuat posisi KBP sebagai destinasi utama, bukan sekadar jalur transit.

Sebagai titik perjumpaan antarwilayah, KBP berpotensi menjadi etalase ekonomi dan pusat bisnis yang mendorong keterisian serta nilai business loft kawasan.

Dalam mematangkan ekosistem kota mandiri, KBP menyelaraskan perencanaan pembangunan bersama Pemerintah Kabupaten Bandung Barat dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Guna merespons dinamika pergerakan masyarakat, KBP menyediakan layanan shuttle langsung dari Stasiun Kereta Cepat Whoosh Padalarang menuju KBP, serta mengoperasikan internal shuttle untuk menghubungkan simpul komersial dan hunian di dalam kawasan.

Sistem transportasi kawasan ini juga diintegrasikan dengan rencana Bus Rapid Transit (BRT) inisiasi Pemda Jabar serta jaringan Perum DAMRI.

"Sistem moda transportasi umum ini terus dievaluasi secara berkala sejalan dengan perkembangan kawasan dan kebutuhan masyarakat," pungkas Ryan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index