JAKARTA - Nilai tukar rupiah di pasar spot menguat tipis pada penutupan perdagangan Rabu (15/7/2026). Mata uang Garuda naik 23 poin atau 0,14 persen ke level Rp18.068 per dolar AS dibandingkan dengan penutupan sebelumnya.
Sejak awal tahun, kurs rupiah telah terdepresiasi 7,79 persen sehingga menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufikurahman menilai tekanan terhadap rupiah berasal dari faktor eksternal. Defisit transaksi berjalan masih terbebani oleh tingginya impor migas, sehingga kebutuhan valas tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan penerimaan ekspor.
Selain itu, permintaan terhadap dolar AS meningkat seiring pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo serta repatriasi keuntungan perusahaan multinasional. Rizal menambahkan bahwa pelaku pasar juga mencermati potensi pelebaran defisit APBN akibat meningkatnya penerbitan Surat Berharga Negara untuk membiayai belanja pemerintah.
“Tanpa perbaikan neraca valas secara struktural, intervensi Bank Indonesia melalui kenaikan BI-Rate dan cadangan devisa hanya mampu menahan pelemahan sementara,” ucap Rizal.
Ia memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif di kisaran Rp17.600–Rp18.300 per dolar AS sampai akhir tahun, dengan peluang ditutup pada rentang Rp17.800–Rp18.100. Arah pergerakan rupiah akan dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik, harga minyak dunia, surplus neraca perdagangan, serta arus modal asing. Sebaliknya, tekanan bisa meningkat jika imbal hasil obligasi AS tetap tinggi dan kebutuhan pembiayaan fiskal pemerintah terus membesar.
Di sisi global, inflasi konsumen AS yang melandai pada Juni 2026 dinilai belum cukup meredakan ekspektasi pasar terhadap peluang kenaikan suku bunga The Fed, terutama di tengah kembali memanasnya konflik di Timur Tengah. Kepala Ekonom BCA, David Sumual, memperkirakan level Rp18.000 berpotensi menjadi titik keseimbangan baru bagi rupiah, dengan proyeksi kurs berada di kisaran Rp18.000–Rp18.300 pada akhir 2026.
Sementara itu, analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mencatat rupiah masih dipengaruhi oleh sentimen eksternal, terutama ketegangan geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump memberlakukan kembali blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran. Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan terhadap infrastruktur milik AS di kawasan tersebut.
Militer AS juga memulai serangan baru untuk melemahkan kemampuan Iran untuk menyerang kapal dagang di Selat Hormuz.
Trump mengatakan, “Saya akan menyimpan target energi untuk yang terakhir, tetapi pada akhirnya kita akan menyerang target energi.”
Teheran menyatakan telah kembali menutup Selat Hormuz setelah permusuhan meningkat. Tentara Iran mengklaim melancarkan serangan drone ke pangkalan militer AS di Yordania, sementara Korps Garda Revolusi Islam Iran menyebut menargetkan fasilitas persenjataan di Bahrain dan Kuwait.
Ketegangan ini memunculkan keraguan bahwa nota kesepahaman bulan lalu bisa mengakhiri perang secara permanen di Timur Tengah. Dari sisi data ekonomi AS, inflasi Juni turun dari 4,2 persen menjadi 3,5 persen secara tahunan, lebih rendah dari ekspektasi 3,8 persen. Inflasi inti juga turun dari 2,9 persen menjadi 2,6 persen.
Setelah rilis data tersebut, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed berkurang. Probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan Juli turun menjadi 16 persen dari sebelumnya 40 persen, sementara peluang kenaikan pada September menurun menjadi 60 persen dari 74 persen.