Imbas Tembak Sapi Kurban Pakai Senapan, Pejabat Malaysia Diselidiki

Imbas Tembak Sapi Kurban Pakai Senapan, Pejabat Malaysia Diselidiki
Abu Bakar dalam penjelasannya kepada media mempertahankan tindakannya menembak seekor lembu korban yang didakwa mengamuk.(Sumber:NET)

JAKARTA - Seorang kepala menteri negara bagian di Malaysia kini tengah berada dalam proses penyelidikan pihak kepolisian usai sebuah rekaman video viral memperlihatkan dirinya menembak seekor sapi kurban memakai senapan saat Idul Adha.

Tindakan dari pejabat Malaysia tersebut memicu gelombang kemarahan publik sekaligus memunculkan tanda tanya besar mengenai pemanfaatan senjata api, isu kesejahteraan hewan, hingga regulasi tata cara penyembelihan hewan kurban.

Melansir dari South China Morning Post pada Selasa (2/6/2026), aparat kepolisian di Perlis, yang merupakan sebuah wilayah negara bagian kecil di sisi utara dan berbatasan langsung dengan Thailand, menyatakan bahwa mereka telah mengamankan senapan yang diduga kuat dipakai oleh Kepala Menteri Abu Bakar Hamzah di Kuala Perlis pada hari Kamis (28/5).

Petugas berwajib juga turut menyita sebanyak sembilan butir amunisi peluru sekaligus merekam pernyataan dari Abu Bakar selepas adanya laporan polisi yang diajukan terkait rekaman video berdurasi 38 detik yang jamak beredar di jagat media sosial.

Keterangan tersebut dipaparkan secara langsung oleh Kepala Polisi Kangar, Yusharifuddin Mohd Yusop, pada hari Sabtu (30/5).

Kendati dari hasil pemeriksaan membuktikan bahwa Abu Bakar mempunyai surat izin kepemilikan senjata api yang sah untuk senjata tersebut, pihak kepolisian tetap mengusut kasus ini dengan landasan Pasal 39 Undang-Undang Senjata Malaysia 1960 yang mengontrol prosedur penggunaan senjata api di area publik.

Sanksi hukum yang membayangi sang pelanggar ialah hukuman kurungan penjara dengan durasi paling lama satu tahun, denda maksimal senilai 2.000 ringgit (US$504), atau bisa juga dikenakan kombinasi dari kedua hukuman tersebut.

Abu Bakar melakukan pembelaan atas perbuatan yang dilakukannya tersebut dengan melontarkan klaim bahwa sapi itu sempat terlepas serta menunjukkan gelagat yang agresif sepanjang berlangsungnya prosesi upacara.

"Saya tidak menembak sapi itu untuk bersenang-senang. Sapi itu menjadi agresif," katanya seperti dikutip oleh Free Malaysia Today.

"Jika kami membiarkannya dan sapi itu menanduk seseorang hingga tewas, siapa yang akan bertanggung jawab?" tambahnya.

Abu Bakar menjelaskan bahwa dirinya melepaskan tembakan tepat ke arah kaki hewan tersebut, yang kemudian membuat sapi itu roboh lalu dipotong "seperti biasa".

Melalui sebuah unggahan di media sosial miliknya, Abu Bakar memaparkan jika dirinya secara mandiri telah melakukan penyembelihan terhadap 25 ekor sapi yang menjadi bagian dari perayaan Idul Adha.

"Tembakan itu diarahkan ke area paha atas dengan tujuan melumpuhkan pergerakan sapi, bukan untuk membunuhnya," tulisnya dalam unggahan terpisah, menurut laporan di surat kabar lokal The Star.

Kejadian tersebut dalam waktu singkat langsung memecah belah opini dari kalangan warganet di media sosial Malaysia, di mana sebagian pihak menuding Abu Bakar telah melakukan tindakan kejam terhadap hewan dan sebagian lainnya menilai tindakannya murni demi melindungi keselamatan warga di sekitarnya.

"Apakah dia membawa senjata api untuk semua acara publik?" tanya seorang pengguna.

Yang lain menulis: "Memiliki senjata api secara legal bukan berarti Anda dapat menembak begitu saja secara legal."

Yang ketiga mengangkat kekhawatiran: "Apakah sapi itu masih dianggap halal?"

Mufti Perlis, Mohd Asri Zainul Abidin, belakangan angkat bicara dan memaparkan bahwa hewan ternak yang berstatus halal namun kondisinya terlalu berbahaya atau teramat sulit ditangkap guna disembelih, diperbolehkan untuk ditembak atau dibuat jinak terlebih dahulu berdasarkan informasi media setempat.

Walakin, seorang anggota parlemen Jelutong yang dikenal vokal bernama Sanisvara Nethaji Rayer, yang saat ini memegang jabatan sebagai Ketua Dewan Wakaf Hindu Penang dan akrab disapa RSN Rayer, melayangkan pertanyaan tentang alasan Abu Bakar membawa senjata api ke dalam sebuah ritual keagamaan.

"Video viral tersebut jelas menunjukkan sapi itu berdiri di area terbuka. Tidak ada seorang pun yang terlihat di dekat sapi itu. Sapi itu berdiri idem dan tidak menyerang siapa pun atau kerumunan orang," kata Rayer dalam sebuah pernyataan pada Sabtu (30/5).

"Jadi mengapa Abu Bakar menembak sapi itu?" katanya, mendesak polisi untuk menyelidiki dan "mungkin menangkap" pemimpin Perlis tersebut.

Aparat kepolisian sendiri telah mengimbau masyarakat luas untuk tidak melahirkan spekulasi-spekulasi liar, serta mengeluarkan peringatan tegas bahwa tindakan hukum akan diambil terhadap segala perilaku yang berpotensi mengancam stabilitas ketertiban umum.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index