Pembangunan Tol Jogja-Solo, Dinkop Sleman Kaji Dampak Bagi UMKM

Jumat, 07 Agustus 2026 | 14:34:06 WIB
Ilustrasi Progres pembangunan Tol Jogja-Solo Trihanggo-Junction Sleman.(Sumber:NET)

SLEMAN - Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Dinkop-UKM) Kabupaten Sleman bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sedang menjalankan riset mengenai efek pembangunan jalan tol terhadap para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayah itu.

Riset ini dilaksanakan guna memetakan beragam peluang dan tantangan yang berpotensi timbul dari pembangunan infrastruktur strategis tersebut, khususnya untuk pelaku UMKM dan warga di sekitar perlintasan tol.

Kepala Bidang Usaha Mikro Dinkop-UKM Sleman Sri Wara Nusandari menyatakan penelitian masih berjalan dan berfokus pada dampak sosial ekonomi yang dirasakan warga serta pelaku usaha, terkhusus di kawasan berdekatan dengan pengerjaan tol.

“Untuk yang tol kami sedang melakukan kajian bersama BRIN. Jadi efek adanya tol kepada masyarakat, kepada pelaku UMKM khususnya yang ada di Kapanewon Sleman baru melakukan kajian,” kata Sri Wara saat ditemui di kantornya, Kamis (6/8/2026).

Menurutnya, muatan hasil riset bakal dipakai sebagai pijakan pemerintah daerah untuk merumuskan kebijakan yang mampu membantu warga memanfaatkan peluang ekonomi sekaligus mengantisipasi dampak yang mungkin terjadi.

Sri Wara menerangkan kehadiran perlintasan tol mempunyai konsekuensi yang cukup kompleks.Di satu sisi, jalan tol tidak memberikan akses langsung bagi warga untuk mendirikan usaha di sepanjang jalurnya lantaran tergolong kawasan terbatas.

Di sisi lain, pengerjaan jalan tol berpotensi menghidupkan pusat kegiatan ekonomi baru, khususnya pada area sekitar pintu keluar tol (exit tol).

“Ada tol itu artinya kan tol itu tidak terbuka secara langsung untuk masyarakat sekitar. Tetapi di sisi lain nanti masyarakat yang di dekat exit tol itu bisa berusaha,” ujarnya.

Area sekitar exit tol dinilai berpotensi tumbuh menjadi tempat usaha baru, mulai dari sektor perdagangan, kuliner, jasa, hingga bidang penunjang lain yang melayani pergerakan warga.

Apabila dikelola secara optimal, peluang tersebut bisa dimanfaatkan warga untuk memperluas bisnis maupun menciptakan sumber pendapatan baru.

Keberadaan akses transportasi yang kian memadai juga diyakini sanggup memperluas jangkauan pasar produk UMKM hingga menjangkau konsumen lebih luas.

Selain peluang ekonomi, Dinkop-UKM Sleman turut mengamati pelbagai dampak lain yang dapat berhembus akibat pembangunan jalan tol.

Salah satunya berupa pergeseran nilai properti dan harga tanah pada kawasan di sekitar proyek tersebut.

Sri Wara menilai pembangunan tol berpotensi mengerek kenaikan harga properti di sejumlah titik, termasuk area yang tak kena dampak langsung pengerjaan fisik.

Oleh sebab itu, pemerintah daerah ingin memastikan seluruh efek yang timbul dapat dipahami secara mendalam sebelum menyusun langkah penanganan.

“Di sisi lain, pembangunan tol juga bisa berdampak terhadap harga tanah di wilayah yang tidak terkena langsung pembangunan,” katanya.

Kajian tersebut diharapkan bisa menyajikan gambaran menyeluruh terkait perubahan ekonomi warga sebagai konsekuensi pengerjaan infrastruktur berskala besar itu.

Pada momen yang sama, Sri Wara menerangkan bahwasanya karakteristik UMKM di Kabupaten Sleman mempunyai perbedaan yang tampak jelas antara area perkotaan dan perdesaan.

Di kawasan perdesaan, mayoritas UMKM masih terhubung erat dengan bidang pertanian dan usaha berbasis sumber daya lokal.

Sementara itu, bidang perdagangan dan jasa lebih tumbuh di kawasan perkotaan yang memiliki ritme aktivitas ekonomi lebih dinamis.

“Memang sangat berbeda. Kalau di perdesaan mayoritas mereka memang pertanian. Untuk perdagangan memang mayoritas di perkotaan,” ujarnya.

Menurut Sri Wara, kondisi ini tidak lepas dari sifat pasar area perkotaan yang lebih terbuka dan memiliki basis konsumen lebih besar.

Kehadiran mahasiswa, penghuni indekos, pekerja, wisatawan, sampai pendatang dari berbagai daerah memicu permintaan tinggi terhadap pelbagai produk dan jasa.

Banyaknya warga nonpermanen yang bermukim di wilayah perkotaan Sleman turut menjadi salah satu faktor pemicu tumbuhnya bisnis baru.

Sri Wara menuturkan tidak sedikit mahasiswa yang mengikuti pelatihan kewirausahaan dari Dinkop-UKM kemudian memutuskan memulai usaha sendiri.

Fenomena tersebut menandakan bahwa ekosistem usaha di kawasan perkotaan mempunyai daya tarik yang cukup kuat untuk melahirkan pelaku usaha baru.

Lewat adanya pembangunan jalan tol dan potensi pertumbuhan ekonomi di sekitar exit tol, pemerintah berharap peluang usaha dapat berkembang tak cuma di pusat kota, tetapi meluas ke wilayah lain yang sebelumnya belum menjadi pusat aktivitas ekonomi.

Hasil riset bersama BRIN kelak diharapkan menjadi landasan merumuskan strategi pengembangan UMKM agar manfaat pengerjaan infrastruktur dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat Sleman.

Terkini