JAKARTA - Layanan buy now pay later (BNPL) atau PayLater semakin populer di kalangan anak muda karena menawarkan kemudahan bertransaksi, cicilan ringan, hingga berbagai promo menarik.
Namun, di balik kemudahan tersebut, psikolog menilai ada faktor psikologis yang membuat banyak anak muda sulit menolak menggunakan fasilitas tersebut.
Psikolog Klinis Virginia Hanny mengatakan, daya tarik PayLater tidak hanya berasal dari kemudahan teknologi, tetapi juga dari cara kerja otak manusia dalam mengambil keputusan.
"Manusia cenderung memilih kesenangan saat ini dan tidak memikirkan konsekuensinya di masa depan. Kecenderungan ini dinamakan present bias," kata Virginia.
Ketika seseorang dapat langsung memperoleh barang yang diinginkan melalui PayLater, otak lebih fokus pada rasa puas yang muncul saat itu dibandingkan kewajiban membayar cicilan pada bulan-bulan berikutnya.
Beban pembayaran di masa depan terasa lebih abstrak sehingga sering kali tidak menjadi pertimbangan utama ketika seseorang memutuskan berbelanja.
"Namun beban itu terasa abstrak karena otak secara otomatis memprioritaskan kepuasan instan (instant gratification)," ujarnya.
Selain itu, PayLater juga mengubah cara seseorang merasakan pengeluaran uang.Virginia mengatakan, pembayaran secara tunai atau langsung memotong saldo rekening umumnya terasa lebih "menyakitkan" karena seseorang menyadari uangnya langsung berkurang.
Sebaliknya, PayLater membuat rasa kehilangan tersebut seolah tertunda karena pembayaran baru dilakukan di kemudian hari dan dicicil selama beberapa bulan.
Padahal, menurut Virginia, sekecil apa pun cicilan yang harus dibayar tetap merupakan utang.Virginia menilai, media sosial juga menjadi salah satu faktor yang membuat anak muda semakin tertarik menggunakan PayLater.
Ia mengatakan, paparan terhadap kehidupan teman, keluarga, maupun influencer secara terus-menerus dapat memunculkan Fear of Missing Out (FOMO) atau rasa takut tertinggal.
"Ketika seseorang melihat kehidupan orang lain, baik teman, keluarga, maupun influencer, terutama secara terus-menerus, terdapat kemungkinan perbandingan itu menjadi berlebihan dan tidak sehat," ujar Virginia.
Keinginan untuk memiliki barang atau menikmati pengalaman yang sama dengan orang lain kemudian mendorong sebagian anak muda menggunakan PayLater agar tidak merasa tertinggal.
Dorongan tersebut semakin kuat ketika platform digital menawarkan berbagai promo, seperti diskon, cashback, gratis ongkos kirim, hingga cicilan nol persen.
Menurut Virginia, kombinasi antara promosi dan kemudahan PayLater membuat hambatan seseorang untuk berbelanja menjadi semakin kecil.
Akibatnya, keputusan membeli barang kerap dilakukan tanpa pertimbangan yang matang.
Virginia mengingatkan, penggunaan PayLater yang tidak terkendali tidak hanya berdampak pada kondisi keuangan, tetapi juga kesehatan mental.
Ia mengatakan, kecemasan menjadi dampak yang paling sering muncul ketika seseorang memiliki banyak cicilan.
"Terdapat kekhawatiran seperti apakah bisa membayar tagihan bulan ini, apakah saldo yang dimiliki cukup, dan bagaimana apabila sudah melewati tenggat waktu," katanya.
Menurut Virginia, kondisi dapat menjadi lebih berat apabila seseorang menggunakan PayLater baru untuk menutup cicilan lama atau praktik "gali lubang tutup lubang".
Dalam jangka panjang, tekanan finansial yang terus berlangsung dapat memengaruhi suasana hati, mengganggu konsentrasi, hingga meningkatkan risiko munculnya gejala depresi maupun gangguan kecemasan pada individu yang rentan.
"Dalam jangka panjang, tekanan finansial yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi suasana hati, menurunkan kualitas hidup, mengganggu konsentrasi, bahkan meningkatkan risiko munculnya gejala depresi atau gangguan kecemasan pada individu yang memang rentan," ujarnya.
Virginia menegaskan, tidak semua penggunaan PayLater merupakan keputusan yang buruk.
Namun, seseorang perlu memastikan bahwa barang yang dibeli benar-benar merupakan kebutuhan, bukan sekadar keinginan sesaat.
Ia menyarankan masyarakat mengajukan tiga pertanyaan kepada diri sendiri sebelum menggunakan PayLater, yakni apakah barang tersebut masih akan diinginkan beberapa hari atau beberapa minggu ke depan, apakah tetap akan dibeli jika tidak ada fasilitas PayLater, serta apakah barang tersebut memang dibutuhkan atau hanya diinginkan.
"Jika ketiga pertanyaan tersebut dijawab dengan tidak yakin, artinya pembelian barang tersebut dengan PayLater bisa ditunda atau dihentikan dulu," kata Virginia.
Banyak orang berbelanja bukan karena benar-benar membutuhkan barang tersebut, melainkan karena sedang merasa bosan, sedih, atau stres.
Padahal, rasa senang setelah berbelanja biasanya hanya berlangsung sementara dan sering kali berganti menjadi penyesalan ketika tagihan mulai datang.
Karena itu, Virginia mengingatkan agar setiap keputusan menggunakan PayLater dipikirkan secara matang, terutama untuk pembelian dengan nominal besar.
"Tujuannya agar pembelian menjadi lebih bermakna karena benar-benar memenuhi kebutuhan diri sendiri," ucap dia.