JAKARTA - Banyak masyarakat mengira bahwa nyeri kepala yang hebat selalu menjadi tanda awal dari tumor otak.
Namun, dugaan tersebut tidak selamanya tepat.
Pada variasi tumor tertentu, khususnya yang menyerang lobus frontal, indikasi awal yang timbul justru berupa pergeseran halus pada perilaku, kondisi hati, hingga kontrol emosi.
Kondisi tersebut bahkan dapat teramati beberapa bulan sebelum indikasi neurologis yang lebih kentara muncul.
Mengapa Tumor Otak Dapat Mengubah Kepribadian?
Lobus frontal ialah bagian pada otak yang memegang andil krusial dalam mengontrol kepribadian.
Disadur dari situs Times of India, andaikata ada tumor pada bagian ini, problem tersebut barangkali tidak serta-merta memicu rasa nyeri.
Akan tetapi, secara samar tumor dapat merusak jaringan yang memengaruhi proses berpikir, merasa, serta bersosialisasi dengan individu lain.
"Lobus frontal, yang terletak di belakang dahi, memainkan peran utama dalam kepribadian, penilaian, pengendalian emosi, motivasi, perilaku sosial, dan pengambilan keputusan. Pada dasarnya, ini adalah pusat eksekutif otak," kata Dr Venkata Ramakrishna T, Kepala Departemen Bedah Tulang Belakang di Arete Hospitals.
Berbeda dengan stroke yang indikasinya timbul secara mendadak, tumor pada lobus frontal umumnya tumbuh secara perlahan.
Imbasnya, pergeseran perilaku dapat terjadi selama berminggu-minggu sampai berbulan-bulan tanpa terdeteksi sebagai gangguan pada otak.
Seseorang barangkali menjadi lebih gemar mendebat, kehilangan kontrol sosial, atau mengucapkan hal-hal yang mulanya tidak pernah dinyatakan.
Kemungkinan lainnya, penderita tumor ini menjadi datar secara emosional, mengasingkan diri, atau bersikap cuek terhadap sesama dan aktivitas yang sebelumnya amat mereka gemari.
National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS) pun memasukkan perubahan kepribadian, perilaku, serta fungsi kognitif sebagai salah satu indikasi potensial dari tumor otak.
Tanda-Tanda Kecil yang Kerap Kali Luput dari Perhatian
Tidak semua gejala timbul secara mencolok.
Kadang kala, indikasi peringatannya terkesan amat sederhana.
Berdasarkan penjelasan Dr Ramakrishna, seseorang pun dapat mulai merasakan penurunan daya ingat sejak fase awal, khususnya memori jangka pendek.
Pihak keluarga barangkali keliru menganggap hal ini sebagai akibat stres, keletihan, atau pun proses penuaan.
"Pada beberapa pasien, motivasi menurun begitu signifikan sehingga mereka digambarkan sebagai orang yang malas atau tidak tertarik. Padahal, masalahnya mungkin sama sekali bukan psikologis. Tumor mungkin memengaruhi area otak yang terlibat dalam inisiatif dan dorongan emosional," katanya.
Tidak Semua Perubahan Kepribadian Mengindikasikan Tumor Otak
Pergeseran kepribadian tidak serta-merta menandakan seseorang menderita tumor otak.
Mayoritas kasus lebih berhubungan dengan faktor lain, layaknya stres, kurang beristirahat, pergantian hormon, depresi, kecemasan, dampak obat, atau gangguan medis lain yang lebih jamak terjadi.
"Penting untuk menyatakan dengan jelas bahwa sebagian besar perubahan perilaku atau emosional tidak disebabkan oleh tumor otak," ungkap Dr Ramakrishna.
Kendati demikian, ia memperlihatkan terdapatnya indikasi peringatan yang tidak boleh disepelekan.
Pemberian perhatian ini krusial lantaran otak mengontrol lebih dari sekadar pergerakan dan sensasi tubuh.
Kewaspadaan amat dibutuhkan jika pergeseran perilaku berlangsung tanpa pemicu yang transparan, terus menetap, atau disertai indikasi seperti nyeri kepala yang kian parah, kejang, hambatan penglihatan, muntah, penurunan memori, ataupun hambatan keseimbangan.
Pendeteksian secara dini membuat pemicu keluhan didapati lebih cepat, sehingga pengobatan yang tepat dapat lekas didapatkan jikalau memang didapati problem pada otak.