Tiyo Eks Ketua BEM UGM Buka Suara Soal Tuduhan Kedekatan Politik

Senin, 29 Juni 2026 | 14:24:02 WIB
Eks Ketua Bem UGM Tiyo Ardiyanto (FOTO: NET)

JOGJA - Mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, menyampaikan reaksi tegas dalam merespons tudingan aliansi BEM Bersatu yang mengaitkan dirinya dengan tokoh PDI Perjuangan.

Ia menilai pernyataan dari perhimpunan mahasiswa tersebut sama sekali tidak valid untuk dipercaya.

Sebelumnya, BEM Bersatu lewat delegasinya, Rahmat Djimbula, membeberkan adanya relasi antara Tiyo dengan seorang purnawirawan TNI dalam konferensi pers di Utan Kayu, Jakarta Timur, Selasa (16/6/2026).

"Salah satu pimpinan aksi, Tiyo Ardianto, diduga memiliki kedekatan dengan jaringan politik tertentu. Mobil Fortuner yang digunakannya diduga terdaftar atas nama Siti Nuraeni, adik Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso, yang merupakan besan Jenderal TNI (Purn) Andhika Perkasa, tokoh tim pemenangan Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024. Dugaan ini diperkuat kehadiran politikus PDI Perjuangan, Andi Widjajanto, di tengah massa aksi," ujar Rahmat dalam konferensi pers di Utan Kayu, Jakarta Timur, Selasa (16/6/2026), dilansir detikNews.

Rahmat mengimbuhkan bahwa kehadiran Tiyo dalam suatu diskusi nasional bersama sejumlah figur, termasuk Setyo Sularso, kian mempertegas dugaan yang dimaksud.

"Keterkaitan tersebut juga diperkuat oleh kehadiran Tiyo Ardianto dalam Dialog Nasional Kebangsaan di Bandung, 18 Juni 2026, bersama sejumlah tokoh seperti Said Didu, Roy Suryo, Refly Harun, dan dr Tifa. Dalam forum yang sama, Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso juga tercatat hadir, menunjukkan adanya jejaring yang patut dicermati," sebutnya.

Satu pekan sesudahnya, Tiyo memberikan tanggapan atas tudingan itu dengan menyebut bahwa langkah tersebut sengaja digulirkan guna mengaburkan fokusnya dari isu-isu yang tengah ia suarakan.

"Hari ini saya kira memang tuduhan itu dilakukan untuk menyibukkan saya. Jadi saya pribadi memilih fokus untuk pada hal-hal yang strategis dan hal-hal substantif," kata Tiyo saat ditemui di UGM, Kamis (25/6).

"Terkait kedekatan dengan pihak-pihak tertentu, saya kira orang bisa melakukan cocoklogi macam-macam lah. Saya tetap independen sebagai individu yang merdeka, yang ingin supaya kekuasaan hari ini berjalan dengan benar," sambungnya.

Merespons pertanyaan mengenai tuduhan pemakaian mobil pinjaman, Tiyo justru menyangsikan kredibilitas dari kubu yang melayangkan tudingan tersebut.

Ia memandang aliansi itu bermasalah serta mempersilakan pihak pelapor untuk menyodorkan bukti atas klaim mereka.

"Saya kira lagi-lagi ya, pertanyaan saya kan satu, itu kan tudingan yang dilakukan oleh BEM Fakultas Bersatu. BEM Fakultas Bersatu itu aliansi yang saya sendiri baru tahu. Setelah saya lihat beberapa organisasi yang ada di kampus tempat mereka berkuliah, itu kan kemudian mengklarifikasi bahwa 14 orang itu yang mengaku aliansi BEM Fakultas Bersatu ada yang ternyata bukan mahasiswa, ada yang sudah lulus, ada yang bukan ketua BEM tapi ngaku ketua BEM," ungkapnya.

"Apa yang bisa dipercaya dari orang-orang yang sejak dari tubuhnya saja sudah berbohong? Saya enggak pernah menampilkan apa pun yang berkaitan dengan kendaraan atau apa. Sehingga ini tudingan yang saya kira kalau dalam bahasa hukum ya, yang menuding ya yang harus membuktikan," imbuhnya.

Di luar persoalan politik, Tiyo merasa dirinya kerap diterpa beraneka fitnah lain yang tidak berdasar pada fakta.

"Saya itu kan sudah dituding macam-macam. Saya dituding sebagai LGBT, gara-gara waktu itu saya belum ada pacar. Saya dituding anaknya Abah, karena pernah satu forum dengan Mas Anies ketika forum alumni ketua BEM. Berbagai tudingan itu dihantamkan pada saya," ujarnya.

Menurut penilaian Tiyo, seluruh tuduhan tersebut diembuskan dengan maksud agar dirinya dirundung rasa takut serta merasa terganggu.

Kendati demikian, ia menandaskan bakal tetap konsisten pada esensi dan perkara strategis ketimbang merespons satu demi satu tuduhan yang berkembang.

"Biarlah waktu yang menentukan apakah tudingan itu benar atau keliru. Biarlah narasi yang saya ucapkan yang jadi ukuran, apakah tudingan itu benar atau keliru. Karena hanya dengan itu cara kami untuk mengukur apakah kami itu adalah sosok yang independen atau kami adalah patron, berpatron pada pihak-pihak tertentu," tegasnya.

Terkini