Aksi Keji Pria Penyekap Pacar hingga Buta dan Analisis Psikiater

Sabtu, 27 Juni 2026 | 12:56:52 WIB
Taufik Hidayat.(FOTO:NET)

JAKARTA - Peristiwa penyekapan disertai penganiayaan berat yang disinyalir diperbuat oleh Taufik Hidayat terhadap seorang wanita berinisial YTR (29) membongkar rentetan tindakan kejam yang berjalan selama berbulan-bulan.

Korban bahkan mesti kehilangan daya lihat pada kedua belah matanya serta menderita cacat jasmani permanen lantaran penyiksaan yang diterimanya.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Barat membeberkan, pelaku disinyalir melancarkan aksi kekerasan kepada korban pada empat tempat berlainan semenjak tahun 2024.

Keduanya dikabarkan saling mengenal lewat platform biro jodoh daring sebelum akhirnya memutuskan menetap bersama di sebuah tempat indekos.

Berdasarkan penjelasan pihak aparat keamanan, tindakan keji tersebut diawali sewaktu mereka menetap di area Cicaheum, Kota Bandung, pada bulan Mei sampai September 2024.

Kala itu korban dilaporkan berulang kali dihantam serta disulut menggunakan puntung rokok.

Tatkala beralih ke kamar kos lainnya pada kurun waktu September 2024 hingga Januari 2025, kadar kekerasan kian bertambah.

Bagian mata sebelah kiri korban dihantam memakai logam besi sampai tidak bisa melihat lagi.

Seusai berpindah menuju kawasan Cilengkrang, Kabupaten Bandung, keadaan yang dialami korban kian mengenaskan.

Sesuai penuturan korban, mata sebelah kanannya dihantam memakai pelindung kepala atau helm sampai berujung pada kebutaan total.

Bukan hanya itu, bagian lutut korban pun dilukai menggunakan senjata tajam yang membuatnya mengalami gangguan untuk melangkah.

Tindakan penganiayaan masih terus berlanjut sewaktu keduanya menempati sebuah kamar kos di daerah Cileunyi.

Aparat kepolisian menyatakan korban dikurung di dalam ruangan, dihantam berkali-kali memakai helm hingga menderita luka parah, lalu ditinggalkan begitu saja dalam keadaan tidak berdaya.

Taufik diperlihatkan ke hadapan publik dalam acara jumpa pers di Mapolda Jabar, Kota Bandung, Jumat (26/6/2026) siang.

Pertemuan pers tersebut dihadiri oleh sejumlah pihak serta petinggi dari lembaga terkait.

Seusai masing-masing pihak diberikan waktu untuk menyampaikan pernyataan, Taufik Hidayat pada akhirnya dikeluarkan.

Taufik lantas diberikan kesempatan guna memberikan pernyataan.

Pada intinya, Taufik menyampaikan permohonan ampun atas segala perbuatan yang telah dilakukannya.

"Saya minta maaf," kata Taufik, dikutip dari detikJabar.

Dokter spesialis kedokteran jiwa dr Lahargo Kembaren, SpKJ, memberikan penekanan bahwa aksi pengurungan serta penyiksaan dalam rentang waktu yang panjang mengindikasikan adanya tindakan kekerasan yang amat ekstrem.

"Berarti telah terjadi perilaku kekerasan yang ekstrem tanpa rasa empati dan kontrol yang sangat dominan terhadap korban serta pelanggaran berat terhadap hak asasi korban tanpa memikirkan konsekuensinya," ujarnya saat dihubungi detikcom baru-baru ini.

Sifat-sifat semacam itu, ia menambahkan, memang bisa dijumpai pada individu yang mengalami gangguan kepribadian antisosial dengan kecenderungan watak psikopatik.

Kendati demikian, dia mengingatkan bahwa tidak seluruh pelaku tindakan kekerasan mengidap gangguan medis tersebut.

Seseorang dengan kecenderungan berperilaku kejam yang ekstrem disebut dr Lahargo sering kali mengelabui mangsanya pada masa-masa awal jalinan asmara.

Mereka bahkan mampu memperlihatkan sikap yang teramat manis.

"Yang menarik, pada awal hubungan mereka sering kali tidak terlihat menyeramkan," katanya.

Banyak di antara korban, ia melanjutkan, memberikan gambaran mengenai pelaku sebagai figur yang amat perhatian serta romantis, piawai menciptakan kedekatan perasaan dalam waktu singkat, sekaligus tampak menjaga.

Akan tetapi seiring berjalannya waktu, perangai tersebut bergeser menjadi sangat posesif.

Pelaku mulai menjauhkan korban dari jangkauan sanak saudara maupun rekan-rekan, membatasi ruang gerak, pola komunikasi, hingga pilihan-pilihan hidup saban hari.

Tidak jarang pula, muncul sebuah pola kekerasan yang berputar secara berulang, yakni melukai korban kemudian meminta ampunan sehingga korban kembali bertahan di dalam ikatan asmara tersebut.

"Karena itu, salah satu tanda peringatan yang sering muncul bukanlah kekerasan fisik sejak awal, melainkan kebutuhan mengontrol yang berlebihan, manipulasi emosional, dan hilangnya kebebasan korban secara bertahap," jelasnya.

Terkini