Musim Kemarau 2026, BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem di Indonesia

Jumat, 08 Mei 2026 | 02:50:17 WIB
Cuaca Ekstrem di Indonesia.

JAKARTA- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan adanya pengurangan potensi hujan di sejumlah wilayah Indonesia pada periode 8–14 Mei 2026.

 Kondisi ini dipicu oleh menguatnya Monsun Australia, meski demikian masyarakat diimbau tetap siaga menghadapi ancaman hujan lebat dan cuaca ekstrem di beberapa titik.

Menurut BMKG, penguatan Monsun Australia membawa massa udara kering yang berdampak pada berkurangnya tutupan awan saat pagi hingga siang hari. Fenomena ini menyebabkan radiasi matahari menyentuh permukaan bumi secara maksimal, sehingga memicu suhu panas di berbagai daerah.

“Pada periode 4–6 Mei 2026, suhu maksimum lebih dari 35,0 derajat Celsius hingga 37,1 derajat Celsius tercatat di Kalimantan Timur, Papua Barat, Jawa Timur, Sulawesi Tengah, Kalimantan Tengah, dan Sumatera Utara,” tulis BMKG, dikutip Jumat, 8 Mei 2026.

Pihak BMKG memaparkan bahwa suhu panas tersebut berpotensi memicu konvektivitas udara yang signifikan, yang kemudian mendukung pertumbuhan awan hujan pada waktu sore hingga malam hari.

Walaupun sebagian wilayah mulai memasuki musim kemarau, BMKG mencatat adanya curah hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem belakangan ini. 

Data menunjukkan curah hujan tertinggi terjadi di Jawa Barat sebesar 159 mm per hari, Kalimantan Barat 131,8 mm per hari, Sulawesi Tenggara 129,8 mm per hari, serta Banten 129 mm per hari.

Kondisi tersebut dipengaruhi oleh kombinasi aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby Ekuatorial, Kelvin, dan Mixed Rossby-Gravity (MRG). Kehadiran Siklon Tropis Hagupit di utara Papua juga ikut meningkatkan pertumbuhan awan hujan.

Dalam sepekan ke depan, dominasi angin timuran dari Monsun Australia diprediksi semakin kuat. Pola ini membawa massa udara dengan kadar uap air rendah, sehingga potensi hujan di banyak daerah akan mulai menurun.

 Namun, fenomena atmosfer tropis yang masih aktif tetap berpotensi memicu hujan di sejumlah wilayah, dengan MJO yang diprediksi bergerak menuju fase 3 di Samudra Hindia.

Selain itu, Gelombang Kelvin diperkirakan aktif mulai dari pesisir Sumatera hingga Papua, sementara Gelombang Rossby Ekuatorial aktif di sebagian Nusa Tenggara Timur hingga pesisir barat Papua. 

BMKG juga memantau Siklon Tropis Hagupit yang berpotensi menguat dalam 48 jam ke depan dan membentuk daerah konvergensi di utara Papua Nugini.

Untuk periode 8–10 Mei 2026, potensi hujan sedang hingga lebat meliputi wilayah Aceh hingga Papua.

 BMKG bahkan menetapkan status siaga untuk Sumatera Utara, Jawa Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Maluku, dan Papua Tengah. Sementara itu, angin kencang berpotensi melanda NTT dan Maluku.

Pada 11–14 Mei 2026, hujan intensitas sedang hingga lebat diprediksi masih bertahan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua, dengan status siaga khusus untuk wilayah Papua Tengah dan Papua Pegunungan.

Masyarakat diminta tetap waspada terhadap risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir dan sambaran petir. Selain itu, penting untuk menjaga kesehatan tubuh saat suhu panas dengan mencukupi kebutuhan cairan dan menggunakan pelindung matahari.

“BMKG mengingatkan masyarakat untuk secara berkala memantau informasi prakiraan cuaca, peringatan dini, dan peringatan cuaca ekstrem resmi melalui berbagai kanal informasi BMKG,” tulis BMKG.

Tags

Terkini