JAKARTA – Panyineban Karya di Besakih pada 13 titik selesai dilaksanakan, namun masalah pengelolaan sampah menjadi catatan evaluasi utama bagi panitia penyelenggara.
Rangkaian panjang upacara suci di Pura Terbesar di Bali ini akhirnya memasuki tahap akhir dengan khidmat. Meski secara ritual berjalan tanpa kendala berarti, tumpukan limbah sisa persembahyangan yang tersebar di belasan titik menjadi pemandangan yang mengusik kenyamanan kawasan suci.
Kondisi lapangan menunjukkan bahwa volume sampah plastik dan sisa sarana upakara meningkat signifikan seiring dengan membludaknya jumlah pemedek yang hadir. Hal ini memicu diskusi serius di internal panitia mengenai efektivitas sistem pembersihan yang telah diterapkan selama masa karya berlangsung.
Koordinasi antar-sektor dalam menjaga kebersihan lingkungan pura nampaknya perlu dirumuskan kembali agar tidak menjadi beban menahun. Berdasarkan pengamatan, titik-titik krusial pembuangan seringkali tidak mampu menampung antusiasme umat yang datang dari berbagai penjuru daerah.
Memang sampah masih menjadi evaluasi kita, ke depan ini akan menjadi perhatian serius agar penanganannya lebih maksimal di setiap titik panyineban Ujar Jro Mangku Widiartha.
Statistik menunjukkan bahwa pada hari-hari puncak ritual, produksi sampah di kawasan Besakih bisa mencapai angka tonase yang cukup besar. Tanpa pengelolaan yang terintegrasi antara petugas kebersihan dan kesadaran umat, estetika serta kesucian pura akan terus terancam oleh limbah organik maupun non-organik.
Proses panyineban yang berlangsung pada Senin, 20 April 2026 ini sedianya menjadi momentum refleksi bagi semua pihak. Kebersihan bukan sekadar urusan teknis, melainkan bagian integral dari nilai kesucian itu sendiri yang harus dijaga bersama oleh seluruh elemen masyarakat.
Evaluasi di 13 titik panyineban ini mencakup bagaimana sampah-sampah tersebut dikumpulkan dan diangkut secara cepat tanpa mengganggu jalannya persembahyangan umat Ujar Jro Mangku Widiartha.
Langkah konkret selanjutnya diharapkan muncul dalam bentuk regulasi desa adat atau sistem zonasi kebersihan yang lebih ketat. Dengan berakhirnya rangkaian karya tahun ini, harapan akan Besakih yang lebih tertib dan bebas sampah menjadi doa yang sama kuatnya dengan lantunan puja mantra yang baru saja usai.